bahagia di tempat yg tak biasa

betah di dunia mengajar apapun itu bentuknya, siapapun itu muridnya
next necklace project :)

Between Teaching & Jewelry Making : Let the pictures tell the story itself :)

Image

owl necklace : my collaboration with my student :)

my own creation necklace & bracelet were used for our year book photo props :P

next necklace project :)

necklace : owl & fish. Fun collaboration with my 3 students in my class

all collection of the earrings :) (for kids, teens, & women)

Mengintip Obsat soal UN

Secara tidak sengaja saya membaca kicauan teman kuliah saya yang berada di Bandung mengikuti Obrolan Langsat (diskusi yang diadakan di Jalan Langsat). Salah satu pembicara adalah @warnapastel dan dia menampilkan slide ini via Obrolan Langsat\’s Photo on Lockerz :

Anak-anak dan pemuda-pemuda kita sukar dapat belajar dengan tentram karena dikejar-kejar oleh ujian yang sangat keras dalam tuntutannya. Mereka belajar tidak untuk perkembangan hidup kejiwaannya, sebaliknya mereka belajar untuk dapat nilai – nilai yang tinggi dalam raport sekolah atau untuk dapat ijazah. Dalam soal ini baiklah kita para pemimpin perguruan dengan kementerian PP dan K mencari bagaimana caranya kita dapat memberantas penyakit examen cultus dan diploma jacht (mengkultuskan ijazah dan diploma) – Ki Hadjar Dewantara

Saya seperti mendapat dukungan langsung dari Bapak Pendidikan Nasional untuk memberikan pendidikan homeschooling bagi anak-anak saya nantinya (well I am not married yet. So what?). Loh koq larinya ke homeschooling ? Karena saya tidak mau anak-anak saya nantinya dijejali materi yang membuat mereka tidak bisa menikmati proses belajar. UN adalah puncak ketidaksetujuan saya terhadap pendidikan di Indonesia. Memang homeschooling bukan berarti terhindar dari UN tapi mereka bisa memilih kapan mereka siap mengambil UN. Sebenarnya jika uang bukan masalah maka saya ingin menyekolahkan anak saya di Green School Bali tapi sudahlah mari kembali ke realita. Saya selalu ingat kata-kata ibu saya :

lihat cara mama mendidikmu, cara mamamu menyekolahkan kamu, kritisi, kalau ada yang gak kamu suka atau kamu rasa kurang kamu perbaiki ketika kamu membesarkan anak-anakmu.

Jadi pernyataan ibu  inilah yang memacu saya untuk merevisi apa yang sudah diajarkan kepada saya. Kembali ke obsat, @iwanpranoto menjelaskan tentang data literasi matematika siswa RI di PISA. Hasilnya ? 76,6% siswa-siswi di Indonesia hanya berada di level 2. Artinya ? Nah coba lihat kuadran lengkap dari level 1-4 ini.

Obrolan Langsat\’s Photo on Lockerz.

  1. Bernalar rendah, perhitungan sederhana
  2. Bernalar rendah, perhitungan ruwet (UN Matematika Indonesia)
  3. Bernalar canggih, perhitungan sederhana
  4. Bernalar canggih, perhitungan ruwet

Intinya @iwanpranoto ingin menjelaskan bahwa siswa-siswi Indonesia mengejar kecakapan yang sebenarnya sudah usang di Abad 21 ini (padahal ini sudah dekade ke-2 Jendral!!! ).

 

Belajar Investasi dan Mengelola Uang

Penulis saat ini sedang mempersiapkan postingan terbaru tentang pengalaman penulis belajar mengelola keuangan. Saya pikir berdoa tolak kutuk miskin harus satu paket dengan membuka mata lebar-lebar bahwa deposito menjadi cara menabung yang menjemukan :D

Coming Soon Cynn

Pertama Kali : Kelas Inspirasi Kelompok 2 SDN Rawa Badak Utara 02 Pagi

Inilah hasil jepretan Alvin Fauzie, fotografer sukarelawan, yang khusus datang dari Yogyakarta untuk mengabadikan momen kami angkatan pertama dari Kelas Inspirasi yang diselenggarakan oleh Indonesia Mengajar. Menurut saya pribadi, Alvin berhasil menangkap foto saya apa adanya dan menunjukkan siapa saya sebenarnya. Oh ya kelompok kami total 9 orang dan postingan ini khusus untuk menceritakan teman-teman baru saya yang luar biasa (sekaligus menjadi penjelasan spesifik dari postingan April).

This slideshow requires JavaScript.

Ketika diadakan briefing di Kantor Gas Negara, hanya 5 orang yang hadir. Akhirnya kami melancarkan komunikasi melalui email dan BBM. Saya merasa beruntung mengenal mereka semua termasuk fasilitator kelompok kami Dayu Apoji (@dayuapoji) s2 Mekanika Tanah ITB yang sangat sabar menghadapi ocehan saya sepanjang perjalanan pulang dari Kelapa Gading ke Kuningan.

dayu apoji berdiri paling kanan

Melalui koordinasi yang baik, kami semua bisa tiba dengan selamat dan tepat waktu di Rawa Badak. Dayu berangkat bersama dengan Gita dan Alvin. Saya sendiri berangkat bersama Aning dari Depok jam 4.30 pagi. Mbak Chichi bersama Pak Wahid bertemu di Aneka Tambang dan langsung meluncur, sementara Nana, Pak Pantro, dan Pak Madhi berangkat dengan kendaraan masing-masing. Oh ya tak lupa Pandu yang berangkat dari Bogor.

1. Kristina Pratiwi alias Nana (@nana_kawai). Memperkenalkan profesinya sebagai kontraktor kepada tiap murid di kelas walaupun saat ini bekerja sebagai tim marketing PLN huahahahahaha

nana dan murid di kelasnya

2. Pandu Utama Manggala (@pandu_utama). Memperkenalkan profesinya sebagai Diplomat dan diantara kami semua dia terbukti yang paling diplomatis berbicara dengan pihak sekolah tempat kami mengajar :D Saya sebagai koordinator tim sudah siap antisipasi untuk menggantikan jadwal mengajar dia di kelas karena saat itu Pandu menunggu kelahiran anak pertamanya. Syukurlah Pandu bisa hadir dan menjadi ayah seminggu kemudian. Pandu sebagai PNS Kementerian Luar Negeri akan melanjutkan s2 di Australia. *sungguh saya cemburu hehe*

pandu dan peta dunianya

3. Pangesti Bernadus (@chichibernadus). Ibu dari 4 orang anak. Editor-in-Chief for Fit Magazine. Sedang mengerjakan Cheongsam dengan motif batik utk Jakarta Fashion Week. Tentu bisa membayangkan betapa menariknya kelas yang dibawakan Mbak Chichi. Senang rasanya bisa berbagi dengan mbak Chichi karena dia juga saat ini ingin mengembangkan bisnis makanan untuk anak-anak autistik.

mbak chichi dan skenarionya :D

4. Madhi Suryanto (@madhis78). Marketing Manager Shell yang saat ini sedang mempromosikan diskon beli bensin di Shell untuk pengguna kartu kredit Citibank. Saya pun dengan usil bertanya kapan program diskon untuk pengguna motor dibuat masak hadiah promo kemarin cuma Pulpy Orange. Pak Madhi tidak menjelaskan soal Shell di depan murid-murid SD tapi menggunakan berbagai macam merek susu kotak yang ia beli di kantin sekolah sebelum dia mengajar. Luar biasa sekali bagaimana anak-anak ini punya ide yang brilian soal rasa baru susu dan siapa yang seharusnya jadi brand ambassador untuk produk susu. Terbukti anak-anak jauh lebih bisa berpikir kreatif daripada kita orang-orang dewasa yang terpaku pakem dan aturan

Madhi dan Kotak Susu

5. Wahid. Insiyur yang bekerja di pertambangan minyak. Terakhir bekerja di Irak dan saat Kelas Inspirasi berlangsung kebetulan ada di Indonesia :) (tepatnya Bandung)

Wahid beraksi

6. Gita Syahrani (@syahraniGita). Corporate Lawyer yang sehari-harinya bergulat dengan dokumen perjanjian antar perusahaan. Ini adalah salah satu profesi yang menantang untuk dijelaskan di depan anak-anak SD. huahahaha

Gita di depan kelas

7. Pantro Pander Silitonga. VP of Corporate Strategy in XL Axiata Group. Clear enough to describe his job right ? Percaya gak percaya, dibalik pribadi yang tenang dan pendiam ini, Pak Pantro sukses merebut perhatian murid-murid di kelasnya dengan : Ceribel. I love you I miss you so muchhhhhh

Pantro dan murid-murid

8. Tri Sulistianing Astuti. Bekerja di BRI tapi bukan sebagai teller ataupun CS. Dia bekerja sebagai Fixed Income Trader. Bingung ? Saya pun. Pembicaraan selama perjalanan naik taksi ke Rawa Badak sedikit memberikan pencerahan untuk saya. Kira-kira Aning bertugas untuk mengelola keuangan BRI dengan ikut di saham. Kira-kira sih begitu. Kalau salah pemahaman silakan saya diperbaiki.

aning di depan kelas

Trus anggota terakhir tentu saja saya sendiri. Berdiri di depan kelas menjelaskan bahwa saya adalah guru untuk remaja autistik dan juga masih mengelola usaha jasa pindahan rumah. Hehehe

vivi juga beraksi

Pertama Kali : Adventurous April

I have gone through a series of exciting experiences this month. It all started with taking part as one of the dancers in “Ketoprak Utah Ludiro Batavia” – a Javanese comedy play, joining the “Big Durian Race“  (click & you can see our crazy pics), presenting my job as a Special Education teacher in “Kelas Inspirasi” and finally, creating a workshop on autism awareness at Sekolah Cita Buana. And to make it more interesting, in between these events, I was still able to manage my own business, develop a photo exhibition and publication for Autism Awareness at Sekolah Cita Buana as well as give private lesson.I joined “Ketoprak” & “Big Durian Race” spontaneously to my friend’s invitation. Without much consideration, I immediatelt said “Yes”. It seemed that I had all the spirit it took to make my April full of schedule. Honestly, I don’t have any experience in dancing. I joined the activity with the intention of relaxation by listening live “gamelan” music. I only played small part in this “Ketoprak” and danced very simple movements for 1.5 minutes (including “sindet” and “trisik”), but I needed to practice for 1 month to memorize these steps. It was quite enthralling, though I had to  stay up until late night and did not get enough sleep. One thing I really enjoyed from my “Ketoprak Utah Ludiro Batavia” experience is that I can have quality-chats with my old friend – something I would not have if I hadn’t participated at the first place, since most of the time both of us are occupied with our job and business. Moreover, I feel so blessed and grateful to have been acquainted with professional dancers who perform their job with such passion.

the bouquet is mine *my wish

The following day, after my “Ketoprak” performance, I joined the “Big Durian Race“. At the beginning, I was torn into 2 options, whether to join “Big Durian Race” or “Smart Wonderful Women Financial Workshop by QM Financial”. Eventually, I chose “Big Durian Race”.  Why ? Because I wanted to challenge myself. Am I really entitled to be crowned as a real “tukang ojek” (a biker who knows a lot of places in Jakarta) or am I just being a snob?

The “Big Durian Race” itself is a competition similar to the “Amazing Race” show on TV conducted by American Chamber of Commerce Indonesia. Participants earn points by taking pictures in various places around Jakarta. They also give bonus points if we can do several tasks mentioned on Twitter. Thanks to the “Big Durian Race”, my team and I had the time of our lives. We had the chance to be heard by Jakartans via a live-interview on I-radio, dipped our heads in the famous Bundaran Hotel Indonesia fountain and even took a picture in front of bank Papua. It was a very exhausting race, but it was proud and joy to be the runner-up of this competition. The big prize? Definitely not money : D It was simply a fun-frenzy activity!

Four days after the “Big Durian Race”, I went to SDN Rawa Badak Utara 02 Pagi to serve as one of the volunteers in “Kelas inspirasi” program, an event created by Indonesia Mengajar – a group of people who are concerned of education in Indonesia; pioneered by Anies Baswedan. This event is aimed to enlighten primary students about various kinds of career. I didn’t think that I would stand a chance to pass the selection to be volunteer because there were 600 applicants registered for this event, with only 200 accepted. They derived from different backgrounds and occupations. It never crossed my mind that I could be volunteering at the same group as Vice President of XL – Indonesia’s leading cellphone provider – or even the Editor in Chief of Fit magazine. A student asked a very good question to me:

“Ibu, does a kid with autism enjoy being autistic?

A sincere question which made me realize that there are tons of information about autism that need to educated to people.

To sum up April, finally on 28th of april 2012, I presented my first workshop in front of teachers to share the knowledge regarding work assembly in jewelry making.

jewelry making workshop

As I look back, it all comes back to me. These activities represent small steps to make my dream come true, just like what I have written earlier in my scholarship proposal (which I didn’t get):

I proposed to study Inclusive Education because I expect this field will help improved my skills in engaging the community in supporting teenagers with special needs. These skills improvement will benefit me both personally and professionally as I will be able to apply them in my work environment and in my community by joining an education team which conducts varied kinds of workshops and trainings for teachers all around Indonesia. I have read about finding of approximately 1300 children with special needs ranging from learning difficulties to behaviour problems in four districts of Central Java. The information represents the fact that there is a great probability of the occurrence of similar issues in other 32 provinces in Indonesia. With adequate coaching from expertise in special education for teachers (both in mainstream and special schools), I am convinced that children with special needs will be able to learn knowledge in effective way.

This post is edited by Ayu Miranti

Figur Ayah sebagai Mentor

Setelah membaca #UltimateU dari Rene Sudarsono @ReneCC dan membaca postingan Sandiaga Uno tentang ‘ Bervisi Besar Berdompet Kosong‘, saya harus mengakui dengan rendah hati, figur ibu penting, tapi figur ayah juga luar biasa berpengaruh dalam kesuksesan seseorang. Em, sebenarnya figur ayah ini pernah diangkat sebuah buku ‘Rich Dad Poor Dad’ tapi ketika itu saya masih ndablek bahwa tidak ada figur ayah setiap individu akan baik-baik saja karena ketika itu saya memang tidak memiliki figur ayah. Kenyataannya, setiap orang yang berhasil pasti memiliki figur ayah sebagai mentor mereka, sekalipun itu bukan ayah biologis mereka sendiri. 

Ayah saya sendiri sudah meninggal 2004 dan ketika dia hidup, hubungan kami tidak berjalan akrab. Saya tidak merasa berhak menyalahkan ayah saya atas hubungan kami yang tidak mulus karena dalam setiap hubungan dibutuhkan 2 orang untuk membangun kedekatan dan sepertinya saya saat itu tidak bersungguh-sungguh mendekati ayah saya. Namun syukurlah seiring berjalannya waktu saya menemukan figur ayah yang saya teladani. Kami tidak pernah bercakap-cakap panjang lebar tapi setiap kata-kata dalam khotbah singkatnya selalu saya ingat terutama ketika saya terpuruk. Setiap kali saya merasa lemah, hanya mengingat kata-kata beliau, saya kembali tegak berdiri dan mengucap syukur bahwa Tuhan telah memakai beliau secara luar biasa. Kerinduan saya cuma satu : bisa bertanya banyak hal sehingga saya bisa memiliki mentor rohani :)

mengunci mulut keluhan rapat-rapat

Facebook is truly to see and to be seen. Most my colleagues are posting their holiday pics and I can only staring on their pics. I also in my holiday but this is not a real holiday. When people on their holiday, they suppose to go somewhere (not over the rainbow) and enjoy the trip. I almost wanted to feel sorry for myself as I still juggle in the same place. I still need to handle different things and I got headache instantly & almost crying (lebayyy). Then I got this in my twitter’s timeline :

You will never find time for anything. If you want time you must take it – Charles Buxton

 

I might not have my dream holiday but I can choose which work I want to do. I know my place is messy but I choose to ignore it. I try to calm myself down (inhale exhale and drink a lot of water). So this is what I said to myself :

OK Vivi memang banyak yg pengen lu kerjain, bersihin kamera, refill shampoo, urus bisnis telpon sini telpon situ, tapi yang terpenting dari itu semua : istirahatkan kepala lu dulu.