Ketika Murid Jadi Guru Sekolah Minggu

Saya menjadi murid sekolah minggu yang paling rajin sepanjang saya mengingat bisa masa kecil saya. Tidak ada terlintas di benak bahwa hari Minggu adalah hari bangun siang. Sama seperti hari biasa, bangun pagi, sarapan, pakai baju (cuma kalau minggu pakai baju cantik; begitu saya mengistilahkan baju bebas), bawa alkitab dan berangkat ke gereja untuk sekolah minggu.

Biasanya Bapak saya yang mengantar, kalaupun dia dinas ke luar kota, maka ibu saya akan mengantar dengan mikrolet (yeah I am that ancient, I call that blue angkot -> mikrolet). Yang saya ingat sekolah minggu mulai jam 7 dan jam 9 saya sudah bisa nangkring membeli otak-otak. Saya tidak melihat datang ke sekolah minggu sebagai sebuah beban. Ada memang masanya saya ingin seperti anak-anak biasa yang bisa nonton film kartun pagi. Namun Ibu sayalah yang selalu membatalkan niat membolos saya ‘masa 1x seminggu main ke rumah Tuhan saja ogah’ Lalu saya pun membayangkan bahwa Tuhan celingak celinguk mencari saya di barisan kursi sekolah minggu dan sedih karena saya mangkir. Sepertinya bujuk rayu itu mempan karena memang saya terbukti setiap tahun memperoleh sertifikat ‘murid paling rajin tahun ini’. 100% karena kehadiran saya bukan karena alm Bapak yang Penatua Gereja.

Lebih dari 10 tahun kemudian saya tidak membayangkan bahwa saya juga akan menjadi guru sekolah minggu. Saya memutuskan untuk terlibat pelayanan karena saya terpanggil untuk berkontribusi sesuatu bukan cuma jadi jemaat yang lebih mirip komentator bola. Lucunya saya merasa panggilan saya di Sekolah Minggu padahal saya kesulitan menghadapi bayi dan balita. 2,5 tahun sudah saya menjalani peran saya sebagai guru Sekolah Minggu. 1,5 tahun di Tiberias dan 1 tahun di Grace of Christ Community Church. Saya melihat satu per satu anak-anak murid saya sudah semakin besar dan semakin tinggi. Sepertinya mereka baru saja di kelas 2 yang saya pegang lalu ternyata sudah kelas 4. Yang membuat haru biru dari semua itu adalah ketika melihat murid sekolah minggu tersebut ada juga yang terpanggil menjadi guru sekolah minggu. Anak-anak yang dulunya hanya duduk manis dan bertepuk tangan sambil tertawa cekikikan entah kenapa, sekarang satu lingkaran diskusi dengan saya membahas aktivitas baru untuk anak-anak sekolah minggu. Mereka mungkin tidak pernah sadar, tapi saya sungguh-sungguh terharu campur bangga..

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: