Tag Archives: guru inspirasi

1 Guru yang Menginspirasi Mungkin Hanya di Glee

Saya sulit untuk setia menonton film serial, sama seperti sulitnya saya menyelesaikan permainan Hercule Poirot di Wii. Saya tidak suka hal-hal yang berkelanjutan. Dari episode 1 ke episode berikutnya. Dari musim pertama ke musim kedua. Itu sebabnya saya tidak tertarik nonton (apalagi) membaca Harry Potter setiap kali nongol di bioskop. Saya memilih untuk menunggu seluruh film itu rilis lalu siap diunduh gratis. Saya tinggal nonton dari awal sampai akhir, tidak ada penundaan berbulan-bulan. Bisa sekali habis hari itu juga. Tabiat saya ini mungkin berdampak kepada sikap saya terhadap pernikahan. Tidak ada di kamus saya, ada kemajuan sedikit di kedua belah pihak (atau mungkin keluarga) yang mau menikah lalu stagnan selama berpuluh-puluh minggu baru kemudian ada kemajuan sedikit. Halah, mending ga usah ada pembicaraan sekalian. *ok paragraf pertama ngelantur dari judul tapi saya tidak tertarik menghapus*

OK kembali ke Glee. Pagi dimulai dengan nonton film. Diluar kebiasaan saya selama 20 tahun lebih terpola dengan ‘praise and worship hour’. Glee yang saya tonton adalah episode terakhir dari musim terakhir. Singkat kata singkat cerita, si Pak Guru Will terpilih menjadi Guru Terbaik Tahun 2012 karena berhasil membawa New Directions menjadi juara paduan suara. Murid-murid Pak Will bilang bahwa Pak Will berhasil membuat mereka tahu untuk bermimpi. Saya pun segera menggelinding ke masa sekolah saya siapa guru yang menginspirasi saya. Ternyata tidak ada guru yang berkesan buat saya apalagi masa SMA. Yang tersisa hanya guru-guru yang jadi bahan bercandaan saya. Namun saya ingat beberapa film tentang guru yang menginspirasi saya dan sepertinya film-film tersebut telah menjadi guru dan mengacaukan kepala saya selama ini. Film film tersebut adalah sebagai berikut (silakan klik pada gambar untuk memperoleh ringkasan film)

The Chorus

Mengajar dengan kasih

Seorang guru yg mengajarkan untuk melakukan hal diluar standar

Dead_Poets_Society

puisi pun berarti

Justru saya banyak kenangan dengan dosen-dosen saya di Psikologi. Saya bisa merasakan mana pengajar yang mengajar sekedar mencekoki kita untuk lulus ujian sehingga mereka dikategorikan guru berhasil, mana yang sebenarnya membuka mata saya untuk melihat dari sisi yang berbeda. Yang jelas pertemuan saya dengan beragam pengajar telah mengajarkan saya secara langsung untuk terus memperbaiki diri menjadi seorang pengajar. Saya mungkin tidak akan pernah seperti Pak Will, menjadi 1 orang yang diingat banyak murid-muridnya sebagai inspirasi tapi setidaknya saya puas saya memberikan yang terbaik.

Saatnya masuk bagian paraf terakhir yang meloncat dari judul. Setelah menonton Glee, saya menonton video Youtube Edward Suhadi. Saya belum pernah bertemu Edward (padahal saya pernah berkunjung ke gerejanya sekali seumur hidup *halah ga penting*). Saya mulai mengenal Edward melalui Twitter ketika saya mendapat kesempatan menjadi bagian dari Kelas Inspirasi dan Anies Baswedan menyebut namanya sebagai salah satu sukarelawan yang berhasil merekam kegiatan angkatan 1 Indonesia Mengajar dengan apik. Sejak saat itu saya rajin membaca tulisannya di blog dan jujur saya menikmati website studio fotonya yang bukan cuma diisi portfolio foto pernikahan, tapi tulisan yang menarik. Nah, kali ini Edward Suhadi bercerita melalui kisah tentang perjuangan merintis bisnis kecilnya yang sudah berjalan 10 tahun. Sebagai seorang yang juga sedang merintis usaha, saya seperti mendapat semangat menyimak video ini. Bagaimana baik Edward maupun saya berjuang naik motor menemui klien, bagaimana saya sendiri sering sehabis survey langsung mengajar dan blazer menjadi cara cerdik menutupi baju saya yang sudah berkeringat ketika mengajar. Apakah saya sedih dengan hal itu ? Saya tahu segala sesuatu mulai dari bawah. Saya pun dulu menjadi asisten guru sebelum menjadi guru. Saya tahu dalam hidup, saya tidak pernah mendapatkan hal yang instan. Itu sebabnya sebuah surat nikah di tangan pun seperti sebuah perjalanan yang sudah saya tidak pedulikan lagi mau sampai kapan (eeaa koq lari ke pembahasan paragraf 1). Akhir kata, untuk siapapun yang mengamini dan menikmati perjalanan hidup tidak instan silakan :