kisah pekerja lepas

dan kesehariannya

Sudah Selesai…

-Tulisan kali ini luar biasa gaib, minim logika, panjang & melelahkan..-


.. that it is time to finally forgive yourself. You’ve carried the guilt, the shame for long enough. You’ve kept your wounds open for long enough. The time has to come to let go, to heal. Keep the lessons and let the pain heal. Yes, you know what we are talking about it.

Pesan diatas kudapat dari application Facebook yang kuikuti beberapa hari terakhir ini atas saran seorang teman. Aku menarik napas dan sekali lagi berbicara dengan diriku sendiri: luka itu masih ada dan mari di awal tahun ini kita akhiri. Luka itu adalah rasa bersalahku atas kematian bapak. Selama beberapa tahun kupikir, aku sudah bisa memaafkan diriku sendiri dan menerima kenyataan bahwa kematiannya bukan salahku. Namun ketika seorang teman menanyakan sesuatu (yang aku percaya dia tidak bermaksud memojokkanku), seketika itu bayangan detik-detik kematian bapakku muncul dan 10 jam kemudian aku mulai menangis.

Bingung? aku pun si penulis bingung harus membuat pengakuan dari mana..

Melihat & Mendengar
Baru setahun (atau mungkin 2 tahun) aku berani mengaku bahwa sebenarnya aku memiliki kemampuan untuk melihat sesuatu yang akan terjadi pada diriku atau pada orang-orang terdekatku. Selama ini aku memilih diam dan mengabaikan. Sama seperti ketika aku mendengar suara yang melarang atau memerintahkan sesuatu, aku seringkali melawan sehingga seringkali aku remuk dan kesakitan sendiri. Aku pernah mencoba melawan suara ini dua kali ketika aku mulai dekat dengan dua sosok pria dari masa lalu. Yang pertama sukses menggores hatiku dengan bilang aku pelacur, yang kedua cuma ada seks di kepalanya. Buatku, cukup dua kali aku nekat berhubungan dengan pria yang jelas-jelas memang sudah diingatkan oleh ‘suara’ itu untuk tidak diteruskan. Aku tidak akan mengulang untuk ketiga kalinya.

Cerita awal dimulai ketika temanku akan mudik Natal, aku sudah ‘melihat’ akan terjadi perdebatan. Aku sempat ragu dan sibuk berdiskusi dengan diriku sendiri perlukah aku memberitahunya atau tidak.. Aku baru menyampaikan hal itu ketika ‘suara’ itu memang memerintahkan aku untuk bicara. Temanku bertanya mengapa aku sepertinya begitu pasrah dengan semua yang kulihat dan bahkan untuk menyampaikan yang kulihat aku begitu patuh dengan suara itu.. Aku hanya terdiam karena aku pun tak punya jawab untuk itu semua.. Lalu dia bertanya, pernahkah aku mencoba untuk mengingatkan orang lain atas apa yang kulihat.. Ketika pertanyaan itu muncul, seketika itu tubuhku membeku.. jari-jari kakiku mulai mendingin dan aku kehilangan kata.. aku hanya menjawab “kayaknya iya“.

Kayaknya Iya
Aku memilih menghindar dari diskusi tersebut. Saat itu aku sudah dalam kondisi terpojok dan semua luka yang kupikir telah sembuh, menyeruak begitu saja tanpa ampun. Sebenarnya, aku pernah mencoba untuk mengubah apa yang kulihat dan menyampaikan hal tersebut ke orang lain agar semua yang kulihat bisa berubah. Orang itu adalah bapakku sendiri. Ketika dia hidup, kami tidak dekat, kami lebih banyak bertengkar dan ia terang-terangan tidak suka mendengarkan cita-citaku untuk selesai kuliah cepat supaya tidak merepotkan keuangan keluarga apalagi melanjutkan S2. Buat dia, aku akan menjadi semakin besar kepala jika sampai S2..

Sekitar 2003 atau mungkin jauh sebelum itu, aku sudah bisa ‘melihat’ bapakku tidak ada di hari wisuda atau pernikahanku tapi aku tidak menggubris apalagi memberitahu hal ini kepada ibuku. Ketika serangan stroke pertama terjadi di 2001, aku menatapnya dengan mantap bahwa dia akan kembali sehat sempurna, tersenyum dingin dan bilang, ‘berhenti merokok, aku masih perlu bapak buat bayarin kuliahku‘. Hari itu juga bapak memang berhenti merokok karena aku tahu, dia takut mati dan stroke yang membuatnya dirawat selama 2 hari di rumah sakit sudah cukup membuat dia ketakutan setengah mati.

Namun ketika 2004 dia kena serangan kedua ketika kami sedang minum teh sore di ruang tamu, seketika semua penglihatan itu tidak bisa dihentikan, setiap suara itu begitu jelas kudengar: dia tidak akan kembali ke rumah ini vi..(dan memang bapak meninggal di RS Fatmawati-RSF- dan langsung dari sana diberangkatkan ke TPU Kampung Kandang tanpa singgah di rumah.. sesuai permintaan bapak.. tanpa adat.. tanpa ritual)

Aku memberontak. Aku tidak pernah takut akan kematianku sendiri, tapi aku takut dengan kematian orang-orang terdekatku karena aku benci ditinggalkan. Saat itu, ketika dia masih di ICCU RS Prikasih (belum bisa masuk RSF karena ICU penuh akibat wabah DBD) dan aku hanya berdua dengannya, aku menanggalkan egoku, melepaskan segala keangkuhanku dan memohon kepadanya dengan bercucuran air mata: Pak, bapak harus sehat, harus sembuh, nanti kalau aku kawin aku cuma mau bapak yang ndampingin, aku gak mau yang lain.. nanti bapak liat aku wisuda, aku nanti s2 ga akan ngerepotin bapak, pokoknya bapak liat aku dulu jadi sukses.. ya pak ya?

Setelah kondisi membaik dan mendapat kamar di RSF, bapak dipindahkan ke RSF dan dalam waktu 48 jam kondisi bapak memburuk. Tepat ketika aku masuk kamarnya, aku bisa melihat dia sudah berada di garis tipis maut. Dia sekarat. Lagi-lagi aku melawan apa yang kulihat (aku terus-terusan mendapat penglihatan yang sama sepanjang bapak dirawat). Ibuku mulai berdoa supaya bapak siap pulang ke rumah Bapa dan seketika itu aku memberontak. Aku dengan tegas bilang: ganti doanya. Aku mau bapak hidup. Aku tahu dalam hal berdoa, ibuku lebih memiliki kekuatan. Dia terkejut dengan permintaanku dan memang dia mengubah doanya. Dokter anestesi tak lama mengecek kondisi bapak dan dinyatakan masih ada harapan untuk mendapat pertolongan kembali ke ICU. Saat itu aku merasa plong. Aku sibuk bilang kepada diriku sendiri, aku pasti bisa mengubah! Namun itu hanya bertahan 2 minggu. Sehari sebelum hari kematiannya, semua penglihatan itu tidak berhenti bahkan ketika aku dalam perjalanan ke apotik RS Gatot Subroto untuk membeli sebuah alat yang akan ditanamkan ke leher bapak sehingga dia bisa bernafas lebih mudah.

3 Januari 2004 pagi, menjelang operasi, aku sudah tidak bisa membohongi diriku sendiri, kematian itu terasa semakin dekat. Setelah operasi, bapak koma dan diberi napas bantuan. Ketika aku dan ibuku diminta masuk untuk perpisahan yang terakhir kali, aku masih memberontak lagi dengan apa yang kulihat dan kudengar. Aku mengijinkan dokter memberi semacam morfin untuk menstimulus jantungnya. Namun semua itu sia-sia. Dia lelah. Dia pergi. Saat itu aku menangis..perjuangan kerasku untuk mengubah semuanya hancur berantakan. Aku sempat marah padanya, tapi disaat yang bersamaan aku pun bilang, ‘maafkan aku yang memaksakan kehendak.. maafkan aku yang membuatmu kelelahan bertahan.. pergilah.. aku akan baik-baik saja..‘. Aku menandatangani surat kematian & keluar ICU tanpa air mata. Aku berjalan ke yayasan pengurusan kematian dengan kaki dingin kram dan jari-jari tanganku sulit digerakkan. Orang yang tidak belajar psikologi pun tahu, aku menahan emosi berat sehingga tubuhku bereaksi dengan kram. Aku sempat menyesal andai saja aku tidak memaksakan untuk masuk ICU, dia tidak akan sengsara menjalani 3 operasi.. tapi semua itu kujadikan pembelajaran hidup

When You Want Something, All the Universe Conspires to Help You..
31 Des pagi setelah temanku bertanya apakah aku pernah mencoba untuk mengubah apa yang kulihat dengan dalil bahwa : jika punya suatu keinginan, maka seluruh jagat semesta ini akan bergerak bersamamu untuk mencapai hal tersebut, aku meneteskan air mata. Aku pun tahu dan percaya hal itu sejak lama. Bahkan sering keinginan sepele di dalam hati tanpa berani bilang siapa-siapa pun terjadi. Aku pun akhirnya bertanya pada temanku yang lain.. apa yang salah denganku..& menemukan jawaban yang menentramkan hatiku…: ada hal-hal yang sudah ditakdirkan & memang tidak bisa diubah.. let it flow..

Sudah Selesai
Maka saat ini, aku sudah selesai. Aku benar-benar plong, aku memang pernah berbuat kesalahan untuk mencoba mengubah sesuatu yang telah digariskan untukku atau melakukan sesuatu yg sebenarnya tidak aman untuk kulakukan. Aku memaafkan diriku sendiri atas apa yang telah kubuat toh banyak pengalaman berharga yang kuperoleh. Aku tetap percaya untuk selalu mengimani apa yang jadi permintaanku tapi aku tahu satu hal, alam semesta dan Pemiliknya tahu persis apa yang kubutuhkan. Kadang yang kuinginkan bukanlah yang kubutuhkan. Dengan terus selaras dengan Dia, aku tahu aku tidak akan pernah salah melangkah lagi..

 

One comment on “Sudah Selesai…

  1. Pingback: ada Empu di PerEMPUan : Selamat Hari Perempuan Internasional | kisah guru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 07/01/2010 by in cuapcuap and tagged .

Ranah Rana

don't you grateful that your kitten is willing to take care her little friend like this? They are not sisters but they can comfort each other. Harapan (Hope) is crying everytime Sabrina is not around and I am blessed I have Sabrina to stay with Harapan.

Ibu mertua saya (dan banyak org di luar sana yang tidak pelihara hewan) menanyakan mengapa saya cari masalah dengan pertambahan krucil ini yang kemungkinan dpt adopter tak semudah itu. Saya biasanya cuma membalas dengan senyum Pak Harto yang generasi Langgas biasanya bingung bentuk senyum ini seperti apa.

Sebenarnya ini semata2 karena saya tahu rasanya hidup sendiri. Sehari-hari di Depok saya lebih banyak berkomunikasi dengan org lewat mengetik drpd tatap muka dan berbicara. Sejak 2011 saya sendirian saya sudah melihat rupa kejadian yg bikin deg2an di Depok. saya bs merasakan kebingungan Goofy ketika dia harus mengais sampah, Maxi yang lumpuh ditinggal di pinggir jalan ataupun banyak kucing yang sudah saya tangani.

Semua mahluk mungkin bisa bertahan hidup sendirian tapi tidak semua sanggup menjalani hari dengan kesepian. Semua mahluk butuh mahluk lain sehingga ia merasa diperjuangkan, diutamakan dan diperhatikan. ini kandang no 2 kl ga salah disebutnya di kalangan pet shop. kl hujan2 begini saya suka bingung kenapa Mimi dan Mumu di kandang, Momo selalu bisa lolos. Saya jd iseng nungguin mereka kelar makan padahal kondisi saya jg sedang demam. Oalah ternyata dari celah bawah. Sip besok dipasang tali rafia melintang supaya ga menghilang pas lg sayang2nya eh pas lagi hujan deras maksudnya.

Momo sampai sekarang belum ada yang nanyain padahal Momo anak yang aktif dan mandiri sekali. Kl memang masih ada rejeki, bermentallah mbayar walau itu dgn nabung, bukan cari gratisan (lirik komentar2 tayangan lama). Ta jamin penjenangan cepet sugih royo royo (segenap pengikut hening seketika ga ngerti gw ngomong apa apa)

#infosteril #Repost @valeuccio85 #infosteril Jakarta Selatan Teman2 berikut adalah kucing2 yang mencari adopter:

1. Mimi dan Mumu. Bersaudara. Sudah ada yang berminat mengadopsi Mimi dan juga sudah ada yang mau adopsi Mumu. Tinggal tunggu

2. Momo. Anak ini selalu merasa perlu menerobos kandang dan menaklukan dunia >.< coba ini coba itu. Momo tidak ada yang nanyain. 
3. Mama Iming dan Anaknya Imong blas ga ada yang nanyaib sama sekali. Saya bingung sebenarnya. Mau mengembalikan Mama ke jalan, lalu cari adopter utk Imong saja. Namun itu pun Imong tidak ada yang minat

4. Nah ada si Sabrina bersama Harapan di bawah Mama Iming dan Imong

5. Ada TENANG yang mirip dengan Sabrina. Tenang dan Sabrina memiliki bulu yang warnanya biasa saja. tampang pun ala kadarnya. Saya tahu susah cari adopter. Apalagi Tenang yang sudah semakin besar.. tapi

Mengapa saya mencari adopter? Pertama, kucing2 lain ada di ruangan lain yang semuanya pilek parah tidak sembuh2. Kebetulan kucing yang kena pilek tersebut sudah vaksin dan sudah dewasa. Sementara mereka ini masi rentan. Kedua, setiap bulannya budget utk steril kucing jalanan terpakai jika kucing kecil masih penuh di Rumah Steril. Padahal fokus kami adalah mensteril sebanyak2nya kucing jalanan dari dana yang terkumpul oleh pendaftar. 
Tolonglah saya. Sudah banyak kucing jalanan yang saya dekati utk jd target berikutnya.

Kicauan

Perpustakaan

Page Rank

Follow kisah pekerja lepas on WordPress.com

Profil Pekerjaan

%d bloggers like this: