kisah pekerja lepas

dan kesehariannya

dari apatis ke realistis

Ketika seorang teman menulis soal keragu-raguannya terhadap pernikahan, aku merasa seperti melihat diriku sendiri yang dulu. Banyak hal yang membuatku begitu takut dengan pernikahan. Jangankan pernikahan, aku pernah sempat beberapa tahun takut disentuh pria. Pelecehan seksual yang terjadi beberapa ratus meter dari rumahku membuatku begitu ketakutan untuk disentuh. Aku baru berani menyatakan hal ini setelah hampir 11 tahun peristiwa itu terjadi. Sebenernya buat orang mungkin hal itu biasa terjadi di kota-kota besar, tapi sungguh itu membuatku takut.

Selain alasan itu, aku melihat di keluarga inti ataupun keluarga besar yang penuh dengan konflik antar suami istri plus penanganan salah kaprah dalam membesarkan anak. Aku hampir tidak punya alasan untuk ikut terjun dalam lembaga yang sama seperti yg dialami mereka pendahuluku. Aku merasa tidak sanggup harus mengulangi pertengkaran yang sama atau melampiaskan kemarahanku dengan cara memukul anakku.

Situasi yang tidak bahagia tersebut sempat membuatku mencari perlindungan dari beberapa orang. Namun semua itu membawaku pada kekecewaan karena aku belum tahu kunci mencintai orang lain dengan tepat. Aku bukan belajar untuk mencintai diri sendiri dan berpikir positif, aku malah berusaha mencari perlindungan sekaligus melukai orang yang berusaha memahami dan peduli denganku.

Beberapa kali aku mendapat lamaran untuk menikah, entah itu disampaikan oleh sang pria itu sendiri atau oleh ibu sang pria. Alasan yang melatarbelakangi mereka memilihku sempat membuatku sedih. Ada yang sekedar melihatku sebagai aset merger yg tepat mengingat aku anak tunggal sehingga aku dipastikan mewarisi seluruh harta orang tuaku, ada yang melihat aku sebagai wanita mapan sehingga bisa mandiri walaupun calon suami masih belum punya pekerjaan tetap, atau karena ingin bersamaku tanpa harus punya anak (yang ini benar-benar salah kira.. bukan berarti gue ga suka anak kecil, gue ga mau punya anak-anak taukk!!!).

Di masa itu, ketika aku begitu apatis terhadap pernikahan, relationship, apalagi membesarkan anak, aku menantang diriku sendiri untuk berpikir sebaliknya. Dimulai dari mendorong diriku sendiri untuk membiarkan pria menyentuhku melalui salsa. Setelah itu, aku melatih diriku sendiri untuk berhenti mengisi kepalaku dengan segala pikiran negatif. Sungguh, mengisi kepala dengan hal-hal positif itu butuh kedisiplinan. Sangat mudah untuk drop dan berpikir segala hal negatif buatku sehingga untuk mengubahnya jadi positif benar-benar butuh latihan yg kulakukan sejak 2005.

Hal ini kulakukan bukan karena aku ingin menikah, tapi semata-mata aku ingin memiliki pemikiran yang damai, bukan kepahitan ataupun kekhawatiran. Hidup cuma sekali, jadi aku hanya ingin menikmati diriku seutuhnya sebagai individu dengan pikiran yang riang & tidak pernah berhenti berharap.

Soal kehidupan pernikahan sendiri, aku tidak membuai logikaku dengan setumpuk novel romantis yang tidak bicara kenyataan melainkan mengisinya dengan observasi pasangan-pasangan ataupun membaca buku seputar konseling pernikahan. Soal membesarkan anak, syukurlah aku bekerja di dunia pendidikan. Aku seperti sedang ditraining tentang bagaimana mendidik anak dengan praktek langsung ketika aku mengajar murid-muridku. Banyak hal yang kupelajari dari ruang kelas, aku jadi tahu bagaimana harus mengatasi berbagai macam konflik dengan anak-anak dari berbagai usia.

Bagaimana aku sekarang menghadapi pernikahan? Aku tidak apatis.. aku realistis.. pasti akan ada gesekan-gesekan dalam pernikahan mengingat dia cetakan ibu bapaknya dan aku cetakan kedua orang tuaku. Akan banyak hal yang bisa dijadikan alasan untuk memulai pertengkaran, tapi satu yang aku tahu, kebahagiaanku bukan ditentukan dari ada tidaknya konflik. Modalku cuma dua. Pertama,aku  memilih untuk bahagia di tiap detik kehidupan yang kujalani. Aku tidak mau kebahagiaanku tergantung kondisi di luar diriku. Kedua, Aku tidak akan berhenti mencintai diriku sendiri secara penuh dan utuh karena hanya dengan begitu aku tahu bagaimana cara mencintai priaku dengan sehat tanpa membekukan eksistensinya sebagai manusia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 21/01/2010 by in pernikahan dan pra nikah and tagged , .

Ranah Rana

#Repost @valeuccio85 #infosteril Jakarta Selatan Teman2 berikut adalah kucing2 yang mencari adopter:

1. Mimi dan Mumu. Bersaudara. Sudah ada yang berminat mengadopsi Mimi dan juga sudah ada yang mau adopsi Mumu. Tinggal tunggu

2. Momo. Anak ini selalu merasa perlu menerobos kandang dan menaklukan dunia >.< coba ini coba itu. Momo tidak ada yang nanyain. 
3. Mama Iming dan Anaknya Imong blas ga ada yang nanyaib sama sekali. Saya bingung sebenarnya. Mau mengembalikan Mama ke jalan, lalu cari adopter utk Imong saja. Namun itu pun Imong tidak ada yang minat

4. Nah ada si Sabrina bersama Harapan di bawah Mama Iming dan Imong

5. Ada TENANG yang mirip dengan Sabrina. Tenang dan Sabrina memiliki bulu yang warnanya biasa saja. tampang pun ala kadarnya. Saya tahu susah cari adopter. Apalagi Tenang yang sudah semakin besar.. tapi

Mengapa saya mencari adopter? Pertama, kucing2 lain ada di ruangan lain yang semuanya pilek parah tidak sembuh2. Kebetulan kucing yang kena pilek tersebut sudah vaksin dan sudah dewasa. Sementara mereka ini masi rentan. Kedua, setiap bulannya budget utk steril kucing jalanan terpakai jika kucing kecil masih penuh di Rumah Steril. Padahal fokus kami adalah mensteril sebanyak2nya kucing jalanan dari dana yang terkumpul oleh pendaftar. 
Tolonglah saya. Sudah banyak kucing jalanan yang saya dekati utk jd target berikutnya. Hi this is Sabrina because she was found inside Sabri's shop

Sebelum saya cerita Sabrina, saya cerita Sabri dulu. di tahun 2013-2015 saya tinggal di #pinggirpasar yang banyak saya ceritakan di blog pribadi. Saya mengontrak kios sederhana persis di sebelah kios Sabri. 
Sabri toko kelontong. Saya melanjutkan usaha pindahan. Saya dan Sabri sama-sama merintis usaha sekaligus tinggal di kios tersebut. Ga usah tanya soal higienis, ventilasi, dsb, dst. Yang penting bisa tidur. Cukup sudah. Sabri dari Aceh. Saya dari Pasar Minggu haha. 
Dari yang awalnya sepi, kios Sabri bertambah ramai. April 2014 saya menemukan Goofy di pembuangan sampah di belakang hotel Bumi Wiyata. Saya mengajak Goofy pulang tanpa tali dan ketika tiba saya sudah siap kl Sabri ga setuju.

Namun Sabri justru tidak berkeberatan. Sadar bahwa org yang beragama Islam menganggap anjing najis dan mungkin ada kekhawatiran bahwa pelanggan jd takut krn Goofy, saya pun berjanji segera mencari pemilik Goofy / adopter. Lalu Sabri malah bilang 'jangan buk. anjing bagus. ga ada salah apa2 juga' (dengan aksen Acehnya yang setengah mati saya pahami). Saya ingat makanan pertama Goofy adalah kornet dan telur hasil ngutang sama Sabri. Nah sampai sekarang saya masih akrab dengan Sabri untuk membeli kebutuhan bulanan kantor #peentar. Saya bisa saja belanja ke supermarket itung2 jalan2 tp saya ingin ikut membantu rejeki Sabri mengingat bertahun2 dia mengijinkan saya utang belanjaan bayar pas ada uang (trust me Sabri saved my life a lot. when I was so hungry but I did not have money, I took instant noodle from him)

Malam menjelang saya berangkat ke Pulau Seribu 3 hr yang lalu, Saya seperti biasa bayar belanja bulanan. Sabri sedang sibuk di bawah kolong. Ternyata ada anak kucing di dalam. Sabri minta tolong saya bawa pulang karena nyaris terjepit karung tepung. Ya sudah. Masuklah Sabri-na ke dalam tas dan memulai masa foto-foto-demi-dapat-adopter. guys seriously.

Jarang2 saya sampai harus screenshot spt ini cuma kalian perlu belajar untuk cari info dulu sblm ketik komentar.

Sudah dijelaskan bahwa semua soal steril dan lokasi bisa dicari di #infosteril Terima kasih banyak. Matur nuwun sanget. Thank you very much for sharing your story with us.

#2016bestnine dari Rumah Steril sudah tayang. Ada cerita bahagia, ada cerita sedih, ada juga yang ga penting seperti Oreo yg main air dan Momo yang ngantuk jd objek foto demi mendapatkan adopter. Tanpa teman2 yang berbagi cerita, orang masih banyak yang bingung steril itu apa. 
Saya tidak pernah tahu sampai kapan urusan overpopulasi kucing dan anjing akan selesai di Indonesia. Yang saya tahu, semakin banyak org diajarkan tentang kesejahteraan hewan, semakin banyak org tergerak untuk membuat perubahan.

cek tagar #infosteril utk cari tahu info steril di kota terdekat. Iya kota terdekat. Ingat ga semua dokter hewan yang bs steril dan dbayar minim ada di kota kesayanganmu ;)

Kicauan

Perpustakaan

Page Rank

Follow kisah pekerja lepas on WordPress.com

Profil Pekerjaan

%d bloggers like this: