kisah pekerja lepas

dan kesehariannya

Pulang (bagian 2)


Semalam ketika aku masih berada di atas motor perjalanan pulang dari Kebon Jeruk ke Pasar Minggu, aku sedikit kilas balik tentang hidupku selama seminggu ini. Aku mendapati diriku bisa menjadi terpuruk hanya karena hal-hal sepele. Aku mungkin bisa cukup kuat untuk menghadapi masalah besar tapi aku masih perlu belajar untuk mengatasi hal-hal kecil. Sejak Senin kemarin aku sudah merasa lelah dengan persiapan ibuku yang pergi tour selama 11 hari dan list tugas yang ingin kukerjakan :

  • membeli minyak zaitun di Carrefour
  • membeli 20 buah lampu di Pasar Minggu
  • mengambil anting di Pasar Rawa Bening
  • meminta anak kost memperbaiki handphone di Pondok Indah Mall
  • meminta pembantu menyemprot pestisida ke pohon kamboja
  • menemani sepupu keliling Jakarta untuk terakhir kali

Rasanya seminggu kemarin yang kubutuhkan adalah sebuah pelukan dan bantuan, tapi kembali ke realita bahwa hanya aku sendiri lah yang bisa menyelesaikan itu semua, aku berjalan dengan mengasihani diri sendiri. Aku lupa mengucap syukur bahwa mataku yang sempat rewel diawal minggu mulai menjadi baikan dengan sendirinya. Yang terpenting aku lupa dengan prinsip hidupku sendiri..
Aku selalu punya prinsip untuk menjalani hari ini seolah-olah ini adalah hari terakhirku di bumi. Aku tidak mau menjadi pengeluh, aku tidak ingin mengkhawatirkan hari esok, aku hanya ingin memastikan soul ku tetap dalam damai dan sukacita. Prinsip itu juga yang menjadi landasanku memilih pakaian. Aku mau jika itu adalah hari terakhir orang-orang bertemu denganku, aku berpenampilan terbaik yang bisa mereka kenang.

Untunglah soul ku tidak terlalu lama terendapkan dalam keterpurukanku dan segera kembali bersukacita (gara-garanya aku bermimpi mendengar sebuah lagu yang dulu sering kunyanyikan.. ah kisah mimpi tak perlu lah diceritakan disini). Aku bersyukur aku bisa menyelesaikan semua tugas itu dan sebagai bonus, aku masih memiliki kekuatan untuk menemani sepupuku keliling Jakarta dan memberi support kepadanya sebelum ditempatkan di Papua.

Aku membayangkan jika suatu waktu nanti aku pulang, aku ingin bilang :
aku telah melaksananakan tugasku di bumi dengan baik..to love not to fix..to support not to change..
Aku telah mencintai diriku sendiri dengan terus belajar untuk diam dalam damai  &
aku telah belajar banyak dari orang-orang yang hadir di dalam hidupku..

NB: Minggu depan aku menghadapi pertemuan orang tua murid, memperbaiki laptop, menjemput ibu dari bandara, dan meneruskan PR-PR ku yang terlantar dan aku tahu aku akan tetap tersenyum

One comment on “Pulang (bagian 2)

  1. Pingback: Pulang Itu Orangnya | kisah guru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 18/04/2010 by in rumah dan pulang and tagged , .

Ranah Rana

#Repost @valeuccio85 #infosteril Jakarta Selatan Teman2 berikut adalah kucing2 yang mencari adopter:

1. Mimi dan Mumu. Bersaudara. Sudah ada yang berminat mengadopsi Mimi dan juga sudah ada yang mau adopsi Mumu. Tinggal tunggu

2. Momo. Anak ini selalu merasa perlu menerobos kandang dan menaklukan dunia >.< coba ini coba itu. Momo tidak ada yang nanyain. 
3. Mama Iming dan Anaknya Imong blas ga ada yang nanyaib sama sekali. Saya bingung sebenarnya. Mau mengembalikan Mama ke jalan, lalu cari adopter utk Imong saja. Namun itu pun Imong tidak ada yang minat

4. Nah ada si Sabrina bersama Harapan di bawah Mama Iming dan Imong

5. Ada TENANG yang mirip dengan Sabrina. Tenang dan Sabrina memiliki bulu yang warnanya biasa saja. tampang pun ala kadarnya. Saya tahu susah cari adopter. Apalagi Tenang yang sudah semakin besar.. tapi

Mengapa saya mencari adopter? Pertama, kucing2 lain ada di ruangan lain yang semuanya pilek parah tidak sembuh2. Kebetulan kucing yang kena pilek tersebut sudah vaksin dan sudah dewasa. Sementara mereka ini masi rentan. Kedua, setiap bulannya budget utk steril kucing jalanan terpakai jika kucing kecil masih penuh di Rumah Steril. Padahal fokus kami adalah mensteril sebanyak2nya kucing jalanan dari dana yang terkumpul oleh pendaftar. 
Tolonglah saya. Sudah banyak kucing jalanan yang saya dekati utk jd target berikutnya. Hi this is Sabrina because she was found inside Sabri's shop

Sebelum saya cerita Sabrina, saya cerita Sabri dulu. di tahun 2013-2015 saya tinggal di #pinggirpasar yang banyak saya ceritakan di blog pribadi. Saya mengontrak kios sederhana persis di sebelah kios Sabri. 
Sabri toko kelontong. Saya melanjutkan usaha pindahan. Saya dan Sabri sama-sama merintis usaha sekaligus tinggal di kios tersebut. Ga usah tanya soal higienis, ventilasi, dsb, dst. Yang penting bisa tidur. Cukup sudah. Sabri dari Aceh. Saya dari Pasar Minggu haha. 
Dari yang awalnya sepi, kios Sabri bertambah ramai. April 2014 saya menemukan Goofy di pembuangan sampah di belakang hotel Bumi Wiyata. Saya mengajak Goofy pulang tanpa tali dan ketika tiba saya sudah siap kl Sabri ga setuju.

Namun Sabri justru tidak berkeberatan. Sadar bahwa org yang beragama Islam menganggap anjing najis dan mungkin ada kekhawatiran bahwa pelanggan jd takut krn Goofy, saya pun berjanji segera mencari pemilik Goofy / adopter. Lalu Sabri malah bilang 'jangan buk. anjing bagus. ga ada salah apa2 juga' (dengan aksen Acehnya yang setengah mati saya pahami). Saya ingat makanan pertama Goofy adalah kornet dan telur hasil ngutang sama Sabri. Nah sampai sekarang saya masih akrab dengan Sabri untuk membeli kebutuhan bulanan kantor #peentar. Saya bisa saja belanja ke supermarket itung2 jalan2 tp saya ingin ikut membantu rejeki Sabri mengingat bertahun2 dia mengijinkan saya utang belanjaan bayar pas ada uang (trust me Sabri saved my life a lot. when I was so hungry but I did not have money, I took instant noodle from him)

Malam menjelang saya berangkat ke Pulau Seribu 3 hr yang lalu, Saya seperti biasa bayar belanja bulanan. Sabri sedang sibuk di bawah kolong. Ternyata ada anak kucing di dalam. Sabri minta tolong saya bawa pulang karena nyaris terjepit karung tepung. Ya sudah. Masuklah Sabri-na ke dalam tas dan memulai masa foto-foto-demi-dapat-adopter. guys seriously.

Jarang2 saya sampai harus screenshot spt ini cuma kalian perlu belajar untuk cari info dulu sblm ketik komentar.

Sudah dijelaskan bahwa semua soal steril dan lokasi bisa dicari di #infosteril Terima kasih banyak. Matur nuwun sanget. Thank you very much for sharing your story with us.

#2016bestnine dari Rumah Steril sudah tayang. Ada cerita bahagia, ada cerita sedih, ada juga yang ga penting seperti Oreo yg main air dan Momo yang ngantuk jd objek foto demi mendapatkan adopter. Tanpa teman2 yang berbagi cerita, orang masih banyak yang bingung steril itu apa. 
Saya tidak pernah tahu sampai kapan urusan overpopulasi kucing dan anjing akan selesai di Indonesia. Yang saya tahu, semakin banyak org diajarkan tentang kesejahteraan hewan, semakin banyak org tergerak untuk membuat perubahan.

cek tagar #infosteril utk cari tahu info steril di kota terdekat. Iya kota terdekat. Ingat ga semua dokter hewan yang bs steril dan dbayar minim ada di kota kesayanganmu ;)

Kicauan

Perpustakaan

Page Rank

Follow kisah pekerja lepas on WordPress.com

Profil Pekerjaan

%d bloggers like this: