kisah pekerja lepas

dan kesehariannya

aku & resepsi pernikahan

Sebagai pendamping sukarela

sejak kecil aku telah terbiasa untuk mendampingi orang tua dalam berbagai resepsi pernikahan. Biasanya resepsi itu diadakan di gedung-gedung perkantoran. Sampai sekarang pun aku masih menjadi pendamping resepsi teman SMA ku toh malam minggu aku hampir selalu tidak ada acara. Mungkin yang paling menyiksaku ketika aku harus datang ke pernikahan orang Karo. Ini lebih tepat disebut acara adat karena memakan waktu berkepanjangan tiada ampun dan duduk bersila. Untunglah aku memiliki ayah yang sekalipun ‘kepala suku’ memilih untuk tidak berlama-lama dalam acara tersebut (jam 12 sampai jam 3 saja) plus sangat selektif dalam memilih undangan yang dihadiri. Sekalipun aku tidak terlalu kenal dengan pengantin, aku menikmati peranku sebagai pendamping undangan yg membutuhkan jasaku agar tidak merasa sendirian. Aku senang mengamati segala sesuatu yang ada di ruangan resepsi sambil sesekali berbincang dengan orang baru.Sebagai pemberi dukungan
Selain menjadi pendamping, aku juga seringkali diminta utk terlibat dalam pernikahan. Dimulai dari jaman SD untuk sekedar jadi putri dodotan, pager ayu, sampai jaman kuliah menjadi penerima tamu dan pendamping pengantin.

Seiring pertambahan usia, tanggung jawabku semakin besar. 7 tahun yang lalu aku mulai banyak terlibat dalam urusan resepsi pernikahan. Kesempatan itu muncul ketika tetanggaku menikah dan dia sendirian mempersiapkan semuanya. Tugasku sangatlah kecil mengingat skala pernikahannya adalah pernikahan adat batak di Departemen Pertanian : hanya mengurusi pemilihan songket dan berlian pengantin perempuan, mencicipi katering, mengecek jas dan kemeja pengantin pria, dekorasi bunga dan buket pengantin, plus pengamanan dan penghitungan uang angpauw. Tak lama setelah itu, aku membantu sepupuku yang hanya memiliki budget sangat terbatas. Aku membantu memilihkan bahan untuk gaun pengantin plus gambar desainnya. Kemudian di akhir 2008 dan awal 2009 aku hampir mengurusi sebagian besar keprluan 2 resepsi dengan jeda waktu yang berdekatan. Satu pernikahan nasional satu pernikahan internasional. Satu di Ciputat, yang lain di gedung PLN. Banyak drama di dua pernikahan itu. Di satu pernikahan, sang pengantin tidak tahu sama sekali soal pemilihan katering, di pernikahan lain, keluarga pria lebih percaya aku daripada calon menantu perempuannya sendiri.. . Disitulah aku menyadari bahwa aku bisa memperhatikan hal-hal detail sekaligus menjembatani berbagai kepentingan. Sayang aku tidak tertarik bekerja di dunia wedding planner.

Sebagai tamu
Undangan pernikahan yang ditujukan khusus untukku pertama kali terjadi tahun 2005. Seorang teman menikah di daerah Tomang namun aku memilih untuk menghadiri pemberkatan nikah yang berada di sebelah Passer Baroe. Setelah itu aku juga pernah sendirian mendatangi pernikahan seorang teman (yang dulunya adalah mantan dari mantan pacarku) di Mesjid At Tien Taman Mini. Lalu pernikahan teman TK yang kebetulan menikahi teman SMP ku.

Yang terbaru adalah hari ini… Waduhhh mak.. nun jauh di ujung bumi.. untunglah aku membawa motor sehingga bisa parkir di depan Gorga 2..(ok, buat kawinan Batak, deptan tetap yang terbaik.) Jika membawa mobil maka aku harus siap terseok berjalan beratus-ratus meter dari lokasi. Ditambah suhu ruangan yang tak tertahankan panasnya..

Dengan pengalamanku mengurusi pernikahan, hampir di setiap aku menjadi tamu, aku selalu sibuk menganalisis semuanya: apakah lapangan parkir memadai, apakah jumlah kateringnya cukup, bagaimana dekorasi gedung dst dst.. Bahkan hari ini aku sibuk memperhatikan make up pengantin dan pemilihan songket yang ia kenakan..juga sedikit merasa ada yang kurang pas dengan jas si pria.. Aaaa benar-benar vivi yang keterlaluan..

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 16/05/2010 by in pernikahan dan pra nikah and tagged , .

Ranah Rana

don't you grateful that your kitten is willing to take care her little friend like this? They are not sisters but they can comfort each other. Harapan (Hope) is crying everytime Sabrina is not around and I am blessed I have Sabrina to stay with Harapan.

Ibu mertua saya (dan banyak org di luar sana yang tidak pelihara hewan) menanyakan mengapa saya cari masalah dengan pertambahan krucil ini yang kemungkinan dpt adopter tak semudah itu. Saya biasanya cuma membalas dengan senyum Pak Harto yang generasi Langgas biasanya bingung bentuk senyum ini seperti apa.

Sebenarnya ini semata2 karena saya tahu rasanya hidup sendiri. Sehari-hari di Depok saya lebih banyak berkomunikasi dengan org lewat mengetik drpd tatap muka dan berbicara. Sejak 2011 saya sendirian saya sudah melihat rupa kejadian yg bikin deg2an di Depok. saya bs merasakan kebingungan Goofy ketika dia harus mengais sampah, Maxi yang lumpuh ditinggal di pinggir jalan ataupun banyak kucing yang sudah saya tangani.

Semua mahluk mungkin bisa bertahan hidup sendirian tapi tidak semua sanggup menjalani hari dengan kesepian. Semua mahluk butuh mahluk lain sehingga ia merasa diperjuangkan, diutamakan dan diperhatikan. ini kandang no 2 kl ga salah disebutnya di kalangan pet shop. kl hujan2 begini saya suka bingung kenapa Mimi dan Mumu di kandang, Momo selalu bisa lolos. Saya jd iseng nungguin mereka kelar makan padahal kondisi saya jg sedang demam. Oalah ternyata dari celah bawah. Sip besok dipasang tali rafia melintang supaya ga menghilang pas lg sayang2nya eh pas lagi hujan deras maksudnya.

Momo sampai sekarang belum ada yang nanyain padahal Momo anak yang aktif dan mandiri sekali. Kl memang masih ada rejeki, bermentallah mbayar walau itu dgn nabung, bukan cari gratisan (lirik komentar2 tayangan lama). Ta jamin penjenangan cepet sugih royo royo (segenap pengikut hening seketika ga ngerti gw ngomong apa apa)

#infosteril #Repost @valeuccio85 #infosteril Jakarta Selatan Teman2 berikut adalah kucing2 yang mencari adopter:

1. Mimi dan Mumu. Bersaudara. Sudah ada yang berminat mengadopsi Mimi dan juga sudah ada yang mau adopsi Mumu. Tinggal tunggu

2. Momo. Anak ini selalu merasa perlu menerobos kandang dan menaklukan dunia >.< coba ini coba itu. Momo tidak ada yang nanyain. 
3. Mama Iming dan Anaknya Imong blas ga ada yang nanyaib sama sekali. Saya bingung sebenarnya. Mau mengembalikan Mama ke jalan, lalu cari adopter utk Imong saja. Namun itu pun Imong tidak ada yang minat

4. Nah ada si Sabrina bersama Harapan di bawah Mama Iming dan Imong

5. Ada TENANG yang mirip dengan Sabrina. Tenang dan Sabrina memiliki bulu yang warnanya biasa saja. tampang pun ala kadarnya. Saya tahu susah cari adopter. Apalagi Tenang yang sudah semakin besar.. tapi

Mengapa saya mencari adopter? Pertama, kucing2 lain ada di ruangan lain yang semuanya pilek parah tidak sembuh2. Kebetulan kucing yang kena pilek tersebut sudah vaksin dan sudah dewasa. Sementara mereka ini masi rentan. Kedua, setiap bulannya budget utk steril kucing jalanan terpakai jika kucing kecil masih penuh di Rumah Steril. Padahal fokus kami adalah mensteril sebanyak2nya kucing jalanan dari dana yang terkumpul oleh pendaftar. 
Tolonglah saya. Sudah banyak kucing jalanan yang saya dekati utk jd target berikutnya.

Kicauan

Perpustakaan

Page Rank

Follow kisah pekerja lepas on WordPress.com

Profil Pekerjaan

%d bloggers like this: