kisah pekerja lepas

dan kesehariannya

Saya & Identitas Etnis

Dibesarkan di Jakarta dengan kedua orang tua yang berasal dari etnis yang berbeda, aku merasa perlu menjawab panjang lebar sebuah pertanyaan sepele yang biasa ditanyakan: Kamu Orang Apa? Setiap kali aku menghadapi pertanyaan ini, aku biasanya menarik napas panjang sebelum akhirnya menjelaskan detail latar belakang keluargaku kemudian menutup pertanyaan itu dengan sebuah kesimpulan 


Bapakku orang Batak Karo. Bapak sering jengkel kalau orang berpikir Batak Karo sama dengan Batak Toba karena (menurut bapak), Batak Karo memiliki tutur yang lebih halus daripada Batak Toba. Aku tidak tahu dengan keluarga Karo lainnya, tapi aku ingat semarah apapun bapak, pantang mengucapkan kata ‘kau’ karena menurut dia itu kasar dan tidak sopan. Bapak jarang sekali terlibat dalam aktivitas adatnya. Dia lebih suka menelusuri sudut-sudut Indonesia dan menceritakan tiap keunikan yang ada di daerah masing-masing. Bapakku suka Papua. Dia dengan sukarela berulang kali kesana bersama teman-temannya yang dari Jepang. Dia suka mengkoleksi berbagai kain tradisional yang ada di Indonesia, dia suka mendengarkan gamelan dan uro uro, dia mencekoki aku dengan lagu-lagu melayu Ramlee, dia cinta keroncong, dia suka batik & dia sangat terlihat njawani ketika pakai beskap & blangkon.

Ibuku orang Jawa Timur yang halus (bukan pesisiran).  Ibuku pun sekedarnya memperkenalkan budaya Jawa kepadaku. Gaya bicaranya yang tegas dan kedisplinan dia dalam etiket (terutama meja makan) mendapat pengaruh dari ibunya yang peranakan Belanda. Dia menikmati songket dan pakai sarung. Dia menderita kalau harus pake jarik (kain tradisional Jawa). Masakan rendang dan ikan arsiknya bagus tapi dia paling malas buat garang asem dan wajik. Satu-satunya momen aku bersentuhan dengan adat Jawa cuma terjadi ketika menghadiri resepsi pernikahan tetangga. Bahasa Jawa ngoko memang kukuasai dengan level beginner tapi tindak-tandukku yang ingin serba cepat dan tidak tertarik masalah hari baik membuatku terlihat Jakarta banget untuk standar Jawa. 

Bapakku tidak pernah memaksaku untuk melihat Sumatera Utara karena berbagai alasan personal. Dia lebih tertarik memperkenalkan aku pada passion pekerjaannya. Aku berulang kali ke Sulawesi Selatan, berkeliling ke Jawa Tengah, ataupun survey lapangan singkat ke Sumatera Barat dan Lampung, tapi tidak pernah ke kampung halamannya sendiri. 

Aku cuma numpang lahir di Jawa Timur kemudian besar di Jakarta. Aku sendiri kebanyakan mempunyai teman yang berdarah chinese. Aku suka sekali hal-hal yang berbau Tionghoa. Sayang belum bisa beli cheongsam. Aku suka kebaya, batik, gamelan, songket dan ombus-ombus. Untuk orang Jakarta, aku terdengar jawa sekali. Hanya rahang ini yang tidak bisa dibohongi. Aku suka dengan keadaanku yang tidak terikat pada etnis tertentu. Menikmati perayaan budaya mereka sepintas lalu kemudian terus melanjutkan hidup. Nah untuk biasanya untuk mempercepat jawaban, jika ditanya ‘orang apa ?‘ aku cukup menjawabnya: orang Jawa. Lalu kabur .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 01/07/2010 by in cuapcuap and tagged .

Ranah Rana

don't you grateful that your kitten is willing to take care her little friend like this? They are not sisters but they can comfort each other. Harapan (Hope) is crying everytime Sabrina is not around and I am blessed I have Sabrina to stay with Harapan.

Ibu mertua saya (dan banyak org di luar sana yang tidak pelihara hewan) menanyakan mengapa saya cari masalah dengan pertambahan krucil ini yang kemungkinan dpt adopter tak semudah itu. Saya biasanya cuma membalas dengan senyum Pak Harto yang generasi Langgas biasanya bingung bentuk senyum ini seperti apa.

Sebenarnya ini semata2 karena saya tahu rasanya hidup sendiri. Sehari-hari di Depok saya lebih banyak berkomunikasi dengan org lewat mengetik drpd tatap muka dan berbicara. Sejak 2011 saya sendirian saya sudah melihat rupa kejadian yg bikin deg2an di Depok. saya bs merasakan kebingungan Goofy ketika dia harus mengais sampah, Maxi yang lumpuh ditinggal di pinggir jalan ataupun banyak kucing yang sudah saya tangani.

Semua mahluk mungkin bisa bertahan hidup sendirian tapi tidak semua sanggup menjalani hari dengan kesepian. Semua mahluk butuh mahluk lain sehingga ia merasa diperjuangkan, diutamakan dan diperhatikan. ini kandang no 2 kl ga salah disebutnya di kalangan pet shop. kl hujan2 begini saya suka bingung kenapa Mimi dan Mumu di kandang, Momo selalu bisa lolos. Saya jd iseng nungguin mereka kelar makan padahal kondisi saya jg sedang demam. Oalah ternyata dari celah bawah. Sip besok dipasang tali rafia melintang supaya ga menghilang pas lg sayang2nya eh pas lagi hujan deras maksudnya.

Momo sampai sekarang belum ada yang nanyain padahal Momo anak yang aktif dan mandiri sekali. Kl memang masih ada rejeki, bermentallah mbayar walau itu dgn nabung, bukan cari gratisan (lirik komentar2 tayangan lama). Ta jamin penjenangan cepet sugih royo royo (segenap pengikut hening seketika ga ngerti gw ngomong apa apa)

#infosteril #Repost @valeuccio85 #infosteril Jakarta Selatan Teman2 berikut adalah kucing2 yang mencari adopter:

1. Mimi dan Mumu. Bersaudara. Sudah ada yang berminat mengadopsi Mimi dan juga sudah ada yang mau adopsi Mumu. Tinggal tunggu

2. Momo. Anak ini selalu merasa perlu menerobos kandang dan menaklukan dunia >.< coba ini coba itu. Momo tidak ada yang nanyain. 
3. Mama Iming dan Anaknya Imong blas ga ada yang nanyaib sama sekali. Saya bingung sebenarnya. Mau mengembalikan Mama ke jalan, lalu cari adopter utk Imong saja. Namun itu pun Imong tidak ada yang minat

4. Nah ada si Sabrina bersama Harapan di bawah Mama Iming dan Imong

5. Ada TENANG yang mirip dengan Sabrina. Tenang dan Sabrina memiliki bulu yang warnanya biasa saja. tampang pun ala kadarnya. Saya tahu susah cari adopter. Apalagi Tenang yang sudah semakin besar.. tapi

Mengapa saya mencari adopter? Pertama, kucing2 lain ada di ruangan lain yang semuanya pilek parah tidak sembuh2. Kebetulan kucing yang kena pilek tersebut sudah vaksin dan sudah dewasa. Sementara mereka ini masi rentan. Kedua, setiap bulannya budget utk steril kucing jalanan terpakai jika kucing kecil masih penuh di Rumah Steril. Padahal fokus kami adalah mensteril sebanyak2nya kucing jalanan dari dana yang terkumpul oleh pendaftar. 
Tolonglah saya. Sudah banyak kucing jalanan yang saya dekati utk jd target berikutnya.

Kicauan

Perpustakaan

Page Rank

Follow kisah pekerja lepas on WordPress.com

Profil Pekerjaan

%d bloggers like this: