kisah pekerja lepas

dan kesehariannya

Sekolah Psikologi Koq Malah Usaha Pindahan ?

Itu lah pertanyaan yang muncul dari pakde saya yang sudah 15 tahun tidak bertemu ketika berkunjung ke kantor kami di Margonda. Jawaban saya ketika itu sederhana : karena aku tahu repotnya pindahan rumah.

Kami memulai usaha ini bukan karena pencarian passion. Passion saya adalah mengajar dan saya sudah berada di dalam dunia itu. Setiap hari saya mengajar, baik itu di sekolah maupun sekolah minggu. Kami memulai usaha semata-mata karena di dalam hati, kami tahu satu hal : tidak akan pernah makmur selama menjadi pegawai. Sepanjang tahun 2011 kami terus berpikir usaha apa yang bisa kami lakukan. Saya tidak mau melakukan usaha semata-mata mendapatkan uang tanpa mempertimbangkan apakah usaha itu sungguh-sungguh membantu orang atau sekedar membuat orang jadi konsumtif. Itu sebabnya saya memilih jasa pindahan. Saya masih ingat beberapa tahun yang lalu mengurus pindahan rumah dari Jakarta ke Kediri. Biaya pindahannya murah. Hanya 8 juta rupiah. Namun banyak barang yang rusak, hilang, dan pecah. Tidak terhitung stress dan kelelahan fisik ketika membungkus semua barang pecah belah yang ada. Ongkos untuk mengganti dan memperbaiki juga tidak murah. Berangkat dari pengalaman miris itulah saya ingin membantu orang lain. Mungkin orang berargumen bahwa biaya yang saya charge mahal, tapi saya tahu persis, saya tidak pernah mengambil untung besar dari setiap transaksi pindahan. Buat saya, tidak apa untung tipis yang penting orang bisa pindah dengan nyaman.

Berawal dari melihat truk yang melintas di depan sekolah, saya akhirnya merintis usaha jasa pindahan untuk wilayah Depok (dan Cibubur awal 2012). Begitu saya memutuskan untuk memulai usaha, maka saya berjuang melawan segala ketidakbisaan saya. Saya enggan menjadi sales dan tidak bisa akuntansi. Namun satu hal yang saya tahu persis (dan banggakan) dari diri saya adalah ketekunan. Ketika saya melakukan sesuatu yang saya mau, maka saya melakukannya dengan totalitas. Saya, yang tadinya merasa tidak memiliki kemampuan sales, nyatanya bisa menyebarkan brosur dari perumahan sampai masjid. Saya masih merasakan kegugupan ketika melakukan itu, tapi saya melawan kelemahan saya. Saya selalu ingat kata-kata ibu saya ketika kecil, ‘Jangan sedikit-sedikit bilang tidak bisa, harus dicoba‘. Saat ini saya bisa tersenyum bangga bahwa saya sudah berani jadi sales dan akuntan pemula untuk usaha saya. Masih sering gugup, masih sering membuat kesalahan tapi saya bangga saya bisa menaklukan ketidakbisaan saya.

Image

ratu dan truknya

Merintis usaha juga seperti menyalurkan kebutuhan saya yang selalu mencari masalah. Saya suka tulisan yang dibuat sahabat saya, dan ketika saya membacanya : AHA, gw banget nih. Sebenarnya saya dibesarkan di keluarga pekerja. Bapak saya dengan tekun mengabdi sebagai pegawai negeri sipil dan ibu saya dengan rajin mengabdi menjadi ibu rumah tangga untuk keluarganya. Sedikit sekali keluarga besar saya yang memiliki usaha sendiri. Pakde saya yang sebutkan di awal tulisan, baru merintis usaha di awal usia 50an. Sebelumnya? tekun menjadi supir truk Jawa Sumatera. Namun bukan Vivi namanya jika tidak muncul dengan tindakan yang melawan arus (almarhum bapak saya berulang kali bilang saya pemberontak yang keras kepala hehehe).

2 comments on “Sekolah Psikologi Koq Malah Usaha Pindahan ?

  1. Pingback: Mover and Cats | kisah pekerja lepas

  2. Pingback: 10 Tahun Berkarya | kisah pekerja lepas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 31/12/2011 by in lesson and tagged , , , , , , , , , .

Ranah Rana

don't you grateful that your kitten is willing to take care her little friend like this? They are not sisters but they can comfort each other. Harapan (Hope) is crying everytime Sabrina is not around and I am blessed I have Sabrina to stay with Harapan.

Ibu mertua saya (dan banyak org di luar sana yang tidak pelihara hewan) menanyakan mengapa saya cari masalah dengan pertambahan krucil ini yang kemungkinan dpt adopter tak semudah itu. Saya biasanya cuma membalas dengan senyum Pak Harto yang generasi Langgas biasanya bingung bentuk senyum ini seperti apa.

Sebenarnya ini semata2 karena saya tahu rasanya hidup sendiri. Sehari-hari di Depok saya lebih banyak berkomunikasi dengan org lewat mengetik drpd tatap muka dan berbicara. Sejak 2011 saya sendirian saya sudah melihat rupa kejadian yg bikin deg2an di Depok. saya bs merasakan kebingungan Goofy ketika dia harus mengais sampah, Maxi yang lumpuh ditinggal di pinggir jalan ataupun banyak kucing yang sudah saya tangani.

Semua mahluk mungkin bisa bertahan hidup sendirian tapi tidak semua sanggup menjalani hari dengan kesepian. Semua mahluk butuh mahluk lain sehingga ia merasa diperjuangkan, diutamakan dan diperhatikan. ini kandang no 2 kl ga salah disebutnya di kalangan pet shop. kl hujan2 begini saya suka bingung kenapa Mimi dan Mumu di kandang, Momo selalu bisa lolos. Saya jd iseng nungguin mereka kelar makan padahal kondisi saya jg sedang demam. Oalah ternyata dari celah bawah. Sip besok dipasang tali rafia melintang supaya ga menghilang pas lg sayang2nya eh pas lagi hujan deras maksudnya.

Momo sampai sekarang belum ada yang nanyain padahal Momo anak yang aktif dan mandiri sekali. Kl memang masih ada rejeki, bermentallah mbayar walau itu dgn nabung, bukan cari gratisan (lirik komentar2 tayangan lama). Ta jamin penjenangan cepet sugih royo royo (segenap pengikut hening seketika ga ngerti gw ngomong apa apa)

#infosteril #Repost @valeuccio85 #infosteril Jakarta Selatan Teman2 berikut adalah kucing2 yang mencari adopter:

1. Mimi dan Mumu. Bersaudara. Sudah ada yang berminat mengadopsi Mimi dan juga sudah ada yang mau adopsi Mumu. Tinggal tunggu

2. Momo. Anak ini selalu merasa perlu menerobos kandang dan menaklukan dunia >.< coba ini coba itu. Momo tidak ada yang nanyain. 
3. Mama Iming dan Anaknya Imong blas ga ada yang nanyaib sama sekali. Saya bingung sebenarnya. Mau mengembalikan Mama ke jalan, lalu cari adopter utk Imong saja. Namun itu pun Imong tidak ada yang minat

4. Nah ada si Sabrina bersama Harapan di bawah Mama Iming dan Imong

5. Ada TENANG yang mirip dengan Sabrina. Tenang dan Sabrina memiliki bulu yang warnanya biasa saja. tampang pun ala kadarnya. Saya tahu susah cari adopter. Apalagi Tenang yang sudah semakin besar.. tapi

Mengapa saya mencari adopter? Pertama, kucing2 lain ada di ruangan lain yang semuanya pilek parah tidak sembuh2. Kebetulan kucing yang kena pilek tersebut sudah vaksin dan sudah dewasa. Sementara mereka ini masi rentan. Kedua, setiap bulannya budget utk steril kucing jalanan terpakai jika kucing kecil masih penuh di Rumah Steril. Padahal fokus kami adalah mensteril sebanyak2nya kucing jalanan dari dana yang terkumpul oleh pendaftar. 
Tolonglah saya. Sudah banyak kucing jalanan yang saya dekati utk jd target berikutnya.

Kicauan

Perpustakaan

Page Rank

Follow kisah pekerja lepas on WordPress.com

Profil Pekerjaan

%d bloggers like this: