kisah pekerja lepas

dan kesehariannya

Belajar Jujur Sebelum Nikah

Sebenarnya saya memiliki halaman khusus tentang nikah, tapi semua isi halaman nikah itu tidak saya tampilkan dalam  blog karena pernah memicu perdebatan antara partner saya dengan kakaknya. Oh ya sebut saja partner saya tersebut adalah Mr.X.

Sekarang saya kembali menulis soal nikah, semoga ini yang terakhir & tidak memancing perdebatan seperti sebelumnya. Dari awal saya ingin memberi tahu bahwa tulisan ini khusus saya buat sebagai permintaan Mohammad Gavin melalui twitter.

Jadi begini awal mulanya, kemarin saya membaca What is it like to marry or date a fashion model. Dikisahkan bagaimana si model ini berulang kali merasa tidak cantik sehingga pasangan ini kelelahan selama 4 tahun hubungan mereka, ditambah lagi pengelolaan keuangan si perempuan yang berantakan. 

Menurut saya pribadi, kisah ini koq bukan monopoli kaum model saja, tapi kebanyakan kaum perempuan. Saya sendiri juga begitu. Ucapan teman saya yang kuliah di USA 4 tahun yang lalu masih saya ingat sampai sekarang, bahwasanya saya cocok menikah dengan bule (alias muka saya eksostis-bahasa kerennya; muka pembantu-bahasa lugasnya). Saya sendiri sering toyor diri sendiri, ya elah Vi, itu kan omongan 4 tahun yang lalu koq masih diingat sih. Saya berusaha berpikir positif, tapi ada di titik nadir saya seperti minggu lalu, ketika saya pulang dari sebuah resepsi pernikahan tanpa menyalami pengantin karena alasan klise, ‘saya minder karena saya tidak secantik pengantin wanita’. Anda bisa melihat saya gila, tapi saya tidak pernah ingin menutupi kondisi terpuruk saya :) 

Saya tahu hanya saya yang bisa mengatur pola pikir saya sendiri. Sayangnya ini tidak disadari sebagian besar manusia (termasuk didalamnya kaum perempuan). Mereka berharap orang di sekitar mereka yang meyakinkan bahwa mereka menarik, cantik, dan seksi. Sekali dua kali partner anda mungkin dengan sukarela mengucapkan hal tersebut, tapi berulang-ulang kali untuk mendapatkan kepastian hanya akan membuat dia lelah. Ingat yang anda ajak untuk menjalani hubungan juga manusia bukan malaikat atau Tuhan. Manusia ada masanya lelah, bosan, atau sedang tidak berminat memberikan tanggapan romantis ala film Hollywood. Bukan karena tidak cinta, tapi memang mereka sedang ingin bersikap biasa saja.

Si model selain mengalami masalah konsep diri, juga mengalami masalah pengelolaan keuangan. Ini juga dihadapi orang biasa pada umumnya. Perempuan ingin memiliki pesta pernikahan yang indah namun mereka juga ingin tetap berbelanja banyak hal, liburan kemanapun mereka bisa. Saya bersyukur tahun lalu saya dan Mr.X batal menikah. Waktu yang ada membuat saya bisa belajar banyak hal:

  1. soal keuangan keluarga (oops jadi ingat belum menyelesaikan postingan soal belajar investasi). Ini bukan cuma soal alokasi keuangan tapi mau ditaruh dimana uang itu. Saya yang buta akuntansi ini berusaha semaksimal mungkin memahami apa yang harus kami persiapkan nantinya ketika kami berumahtangga. Belajar finansial ini juga yang membuat saya memutuskan bahwa saya tidak tertarik mengeluarkan biaya berlebihan untuk sebuah resepsi pernikahan. Saya jujur apa adanya kepada Mr.X bahwa saya tidak berminat mengumpulkan uang puluhan juta rupiah yang akan menguap untuk 1 hari acara. Bagaimana dengan Mr.X yang datang dari keluarga besar dan mengadakan perayaan adat meriah adalah sebuah yang lumrah ? Saat ini keputusannya ambil jalan tengah : saya yang urus biaya hari H di Jakarta (akad & acara kecil untuk teman-teman terdekat) dan Mr.X urus hari H di kampung halamannya. Soal keuangan rumah tangga pun kami juga sudah selesai rapat koordinasi tinggal pelaksanaan saja hahahaha salah satunya adalah surat perjanjian pra nikah🙂
  2. soal homeschooling. Setelah selama beberapa tahun di belakang layar mengajar di sekolah internasional dan nasional plus, saya jadi tahu apa yang sebenarnya harus saya ajarkan kepada anak-anak saya. Hal itu membawa saya dalam keputusan untuk menyekolahkan anak-anak saya sendiri. Saya sudah mempertimbangkan baik itu untuk sosialisasi mereka maupun perkembangan otak mereka. Hal ini juga sudah saya diskusikan dengan Mr.X. Tentu tidak selesai dalam satu sesi karena homeschooling adalah sesuatu yang baru buat Mr.X.
  3. ASI. Terkesan sepele, tapi dengan kepungan bisnis termasuk susu formula dan operasi caesar, idealisme ini saya sudah bagikan ke Mr.X. Dia bisa paham dan sepakat. Beres lah. Tinggal pelaksanaan.

Kira-kira itu 3 hal yang saya ingat. Pastinya banyak hal yang kami diskusikan dan memang seringkali inisiatif pembicaraan itu datang dari saya. Mengapa ? Saya butuh kejelasan dan kesepakatan visi untuk bagaimana menjalani hidup berdua. Saya adalah orang yang tadinya tidak mau berkomitmen sehingga ketika saya bersedia untuk berkomitmen saya ingin ada sebuah visi yang jelas mau dibawa kemana rumah tangga itu nantinya. Tentunya dalam diskusi-diskusi saya dengan Mr.X ada hal-hal yang harus saya tolerir karena rumah tangga ini bukan monopoli ide saya saja. Misalnya ? Jumlah anak! Saya anak tunggal jadi saya sebenarnya tidak tertarik untuk punya anak lebih dari 1, tapi saya bisa sepakat dengan Mr.X yang ingin punya anak tidak cuma 1. Yang lain ? Cara membesarkan anak, seperti apa membentuk perilaku mereka, bagaimana mereka nanti remaja, bagaimana soal pendidikan seks dan hubungan pacaran untuk anak-anak nantinya dsb.

Semua itu sudah kami bahas panjang lebar lebih mendalam daripada nanti hari H nikah bagaimana karena dengan begitu kami satu sama lain bisa saling mengingatkan ketika kami mengambil langkah yang berbeda. Kalau hal semua diatas tidak dibicarakan sebelum nikah, yang terjadi adalah terkaget-kaget setiap kali ada perbedaan pendapat untuk pengelolaan uang, untuk hubungan seks, ataupun untuk berhubungan dengan keluarga besar. Anda berpikir bahwa anda sudah seiya sekata dengan partner anda pada kenyataannya berbeda jauh dari bayangan anda ketika pacaran (Tulisan om Piring yang ini pas banget deh). Sekali lagi ini hanya opini pribadi saya saja. belum tentu cocok dengan orang lain. 

One comment on “Belajar Jujur Sebelum Nikah

  1. Pingback: Merayakan 4 tahun | kisah guru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 16/09/2012 by in pernikahan dan pra nikah and tagged .

Ranah Rana

#Repost @lindalbs11 with @repostapp
・・・
Tolong bantu repost dan share ya . Mungkin ada empus2 yg butuh di steril dn ownernya mempunyai dana yg minim bisa bergabung disini. Terimakasih. motorbike taxi to send your cats home :p

I am not feeling well today while at the same time I need to push myself to clean my place & go to work. I am grateful I can easily order motorbike taxi so I still have time to manage stuffs here. it costs ± US$ 2 for each bike. *will collapse in 5..4..3..2..1*

Oh ya, trio Mumu-Mimi-Momo + Iyan saya titipkan ke @pdhribery krn dua alasan. 
1. mimi, mumu, momo masih kecil jd butuh pengawasan full. sewaktu2 mereka sakit, penanganan cepat

2. Iyan baru sembuh dari kencing batu. Masih perlu minum obat selama rawat jalan. Namanya kencing batu bisa sewaktu2 kambuh jd saya titip ke sana supaya kl Iyan ga bs pipis ada yang bantu kuras kantung pipis.

Nah kenapa Sabrina tidak saya titip? Karena sebenarnya Sabrina baru saya ambil beberapa jam sebelum keberangkatan. Jd sudah malam sekali. 
Okeh ceritanya berlanjut nanti. saya hrs kembali bekerja tak jemu2.

#Repost @pdhribery with @repostapp
・・・
Yiiiipiiieee kami naik Ojek Online...😄😄 breakfast time for Sabrina and Harapan. Wet food + warm cat milk. Clean plate in 5 min >.< Depok mendung berpotensi hujan deras. Harapan sudah di kandang ditemani Sabrina. Kucing yang dibuang org di warung. Cerita soal Sabrina nantj ya. mau buru2 cari lampu. Sabrina mau satu kandang sama Harapan udah puji syukur. koq bs Harapan jejeritan ga ngeong2 di tas selama di kereta? antara kebetulan atau dia tahu saya tidak punya uang naik taksi Kota - Depok. hehe Turun dr kapal, meluncur ke Stasiun Kota. Makan di salah satu restoran ayam di situ supaya ayam bisa dikasi ke Harapan. Sekarang perjalanan naik kereta menuju Depok. Untung kucing Harapan cukup kooperatif. Tidak ngeong dan tidak buang air. 
Jangan ditiru ya >.< kl ketahuan sebenarnya saya hrs turun dari kereta

Kicauan

  • nunggu bagasi ky nunggu dikawinin kamu. kburu mati gaya 1 hour ago
  • emang dah. detik2 long wiken k bandara + hujan sore hari bikin wkt abis d jln 1 hour ago
  • bapak sopir hiba cm bs saranin si ibu ini ngojek dr pintu tol tp d luar gerimis 1 hour ago
  • 5 jam. depok cirebon itu mah buat gw. ini cm buat k CGK 1 hour ago
  • makanya kenapa gw males terbang skrg. dr Depok udh hrs pergi 5 jam sblm jam boarding. 3 jam utk perjalanan. 2 jam utk dpt boarding pass 1 hour ago

Perpustakaan

Page Rank

Follow kisah pekerja lepas on WordPress.com

Profil Pekerjaan

%d bloggers like this: