kisah pekerja lepas

dan kesehariannya

ada Empu di PerEMPUan : Selamat Hari Perempuan Internasional

Saya baru saja menyadari Google Doodle hari ini tentang Hari Perempuan Internasional. Sepertinya saya tenggelam dalam aktivitas sampai saya tidak menyimak twitter, sumber informasi utama, yang membuat saya tidak ketinggalan jaman. Membaca tulisan Lucy Wiryono dan jeritan hati saya sendiri memantabkan saya untuk sekali lagi menulis tentang konsekuensi dari pilihan yang sudah saya ambil 3 tahun yang lalu. Sebuah pilihan yang sempat membuat saya menjadi lebih dingin, lebih pahit, lebih mengangkat jari tengah saya ke Tuhan. (jika suatu waktu anak perempuan saya membaca ini, tolong dampingi dia dan katakan bahwa normal memiliki ibu yang labil secara emosi..). Lalu saya menyadari ada EMPU di kata perEMPUan. Artinya saya perlu berhenti merasa menjadi korban atas semua yang telah terjadi dalam hidup saya. Empu itu bicara KEMAHIRAN.

Kemahiran apa yang saya miliki ? Kemahiran yang saya tidak sadari sampai saya kepepet memutar uang yang dalam hal ini adalah uang warisan alm Bapak saya yang terlanjur salah diinvestasikan. Yak, kayuh sampan kewirausahaan saya dimulai dari salah investasi. Saya pikir saya membeli aset berupa kapal ferry ternyata saya hanya diberi getek yang dibeli seharga ferry (ini cuma perumpaan lebay). Mau tidak mau saya mengayuh getek itu di tengah samudra. Saya sangat ingin menemukan pulau, meletakkan getek itu, dan membiarkan getek itu sendirian mengarungi laut. Saya membayangkan adanya istirahat. Itu angan-angan saya.. pada kenyataannya..

Mendampingi seseorang yang ingin menjalankan bisnis dan berakhir pada kenyataan bahwa saya yang harus lebih banyak mengurus kegiatan operasional sebenarnya sempat membuat saya membatasi curhatan saya kepada orang-orang terdekat saya. Saya tidak cerita apapun kegalauan di hati saya baik kepada Ibu maupun sahabat saya Mira. Semata-mata karena komitmen saya agar mereka tidak perlu mendengar cerita versi saya yang seringkali berlebihan dan membuat saya terlihat sebagai orang yang paling menderita (begitu dari analisis partner dan saya mengamini). Tentu saja saya tidak tertarik berkomunikasi kepada ibu kandung partner apalagi keluarganya. Mengapa ? Karena dengan kejamnya saya ingin menjerit ke muka mereka, ‘what kind of teaching yang lu udah cekokikan ke orang ini sampai segala sesuatu kerjaan cuma berdasarkan mood & dari semua ide dia biasanya menguap entah ke mana ? Bisnis taik sapi ? And all of you ribet ngomongin persaudaraan itu penting? Bro Sis? Adiklu ga perlu itu! adeklu tuh perlunya ketemu malaikat jibril!!! hih!!

Lalu saya mencoba menarik diri dengan mengutip pernyataan partner (yup I copy paste his statements for hundred times) ‘siapa lu mengharapkan pasangan lu sempurna sesuai harapan lu kalaupun lu sendiri masih jauh sempurna?’ Yak siapa saya mengkritik cara mendidik seorang ibu tunggal (her husband got stroke for years) dengan empat anak ? Maybe I would raise my kids even worse. So I stop accusing her for that. I keep in mind everyone in my life is a mirror for me. Saya akhirnya menyadari pola kerja partner yang tidak sesuai dengan harapan saya atau apapun lah yang tidak sesuai selera saya adalah pencerminan diri saya sendiri. Saya mengamini kata-katanya. Dia ada kekurangan karena saya sendiri juga banyak kekurangan. Saya tidak bisa mengubah dia yang saya bisa lakukan adalah mengubah cara pandang saya terhadap dia termasuk di dalamnya cara pandang saya yang tercebur dalam arena keciprak kecipruk merintis usaha.

Balik ke Ibu Partner (selanjutnya kita sebut Ibu Suri). Ibu Suri pernah membanding-bandingkan ke saya karena ketika dia datang saya tidak mendampinginya pergi ke Taman Anggrek sementara dulu menantunya waktu masih pacaran sukacita sekali pergi bersamanya. Saya ingin sekali ketika itu jebol berbicara ‘listen if only our beloved child came to help me first handling all the phones, the bills and every small things about business early in the morning before he picked you up, I would be happy accompany you all for basa-basi stuff. Yg mau bisnis gw ape anak situ ? Lu gak tahu cita-cita gw mau jadi shallow socialite huh ? But what’s the option I had ? handling all the printils about moving thingy, rushed myself to teach (as I need that fucking money to feed my cats & I) + you still expected me to sit down. Emang gw mantu lu yang cinta mentok banget klepek klepek sama anak lu yang ono ? Brain Ibu Suri ? Brain ?.

Semua kata-kata itu tidak terucap. Namun tetap jahat ya isi kepala saya.. Saya selalu ingat lidah tajam saya pernah membuat almarhum Bapak saya terluka dan saya masih menanggung beban rasa bersalah bahwa kata-kata tajam saya termasuk yang berkontribusi kepada stroke yang ia alami sampai kemudian dia meninggal. Saya tidak mau menambah panjang korban lidah saya. Alm Bapak cukup. Saya sebenarnya ketika itu Ibu Suri mencarikan jodoh dari lingkar sosialnya dan buat keputusan mutlak tanpa terbantahkan bahwa partner saya harus menikah dengan perempuan tersebut. Yah ala cerita klasik Kasih Tak Sampai lah.

Saya tidak pernah mengucapkan komentar kepada partner saya karena saya tahu partner saya sangat ahli beradu argumen. Dia akan segera menangkis dan saya yang lambat berpikir urusan adu argumen seringkali berakhir merasa perih sendiri karena semuanya terasa jadi mentah (halah!). Saat ini saya plong menemukan Cal Newport. Intinya sabodo teing lah soal passion, yang penting mempertajam apa keahlian sekarang begitu terasahnya sampai orang lain tidak bisa mengabaikan anda. Selain itu, Edward Suhadi menambahkan jika mau sukses saya perlu memilih yang sulit. Puji Tuhan saya memilih jalan yang sulit : bersedia berkomitmen dengan partner dan mengerjakan bagian yang (awalnya terpaksa) saya lakukan. Akan kemana sauh ini berjalan ? Yang saya tahu di usia 30 tahun saya memang belum sesukses yang saya bayangkan ketika saya masih remaja dulu. Namun saya pasti tahu :

  1. Karakter saya banyak berubah ke arah yang saya bisa banggakan. Ke arah yang positif. Buat saya loh ya.. Salah satunya adalah saya berhenti merasa menjadi korban. Semua yang saya lakukan adalah keputusan saya. Mungkin dulu ada keputusan gegabah yang berdampak buat saya sekarang tapi bukan berarti otak saya mandek untuk mencari jalan keluar
  2. Saya yang ketahanan kerja, ketekunan, dan kerajinan nyaris menyentuh angka 90% ini bisa dengan percaya diri (bukan nyombong ya cynn) bahwa saya bisa melatih orang-orang yang saya didik (baik itu anak saya pribadi, anak orang, atau anak kucing) untuk bisa memiliki keunggulan ini.
  3. Mata saya sering salah. Apa yang saya lihat baik, menarik, keren seringkali bukanlah yang sesuai buat saya. Saya mensyukuri bahwa Tuhan telah memberikan yang terbaik : Partner yang super pas cocok buat saya, saya tetap di Indonesia dan tidak terima beasiswa, saya tidak menikmati kemewahan seperti pegawai IT pada umumnya yang bisa mengeluarkan biaya nikah tanpa beban apalagi biaya liburan di akhir pekan.
  4. Di atas langit masih ada langit. Semua orang yang berjuang dari pagi sampai malam setiap hari nyaris tanpa libur di Pasar Kemiri Muka membuka mata saya bahwa ketekunan yang saya lakukan tidak ada apa-apanya dibanding perjuangan mereka.

Saya plong sudah menulis ini semua. Selamat menjadi EMPU! Selamat menjadi MAHIR!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 07/03/2014 by in cuapcuap and tagged , , , .

Ranah Rana

don't you grateful that your kitten is willing to take care her little friend like this? They are not sisters but they can comfort each other. Harapan (Hope) is crying everytime Sabrina is not around and I am blessed I have Sabrina to stay with Harapan.

Ibu mertua saya (dan banyak org di luar sana yang tidak pelihara hewan) menanyakan mengapa saya cari masalah dengan pertambahan krucil ini yang kemungkinan dpt adopter tak semudah itu. Saya biasanya cuma membalas dengan senyum Pak Harto yang generasi Langgas biasanya bingung bentuk senyum ini seperti apa.

Sebenarnya ini semata2 karena saya tahu rasanya hidup sendiri. Sehari-hari di Depok saya lebih banyak berkomunikasi dengan org lewat mengetik drpd tatap muka dan berbicara. Sejak 2011 saya sendirian saya sudah melihat rupa kejadian yg bikin deg2an di Depok. saya bs merasakan kebingungan Goofy ketika dia harus mengais sampah, Maxi yang lumpuh ditinggal di pinggir jalan ataupun banyak kucing yang sudah saya tangani.

Semua mahluk mungkin bisa bertahan hidup sendirian tapi tidak semua sanggup menjalani hari dengan kesepian. Semua mahluk butuh mahluk lain sehingga ia merasa diperjuangkan, diutamakan dan diperhatikan. ini kandang no 2 kl ga salah disebutnya di kalangan pet shop. kl hujan2 begini saya suka bingung kenapa Mimi dan Mumu di kandang, Momo selalu bisa lolos. Saya jd iseng nungguin mereka kelar makan padahal kondisi saya jg sedang demam. Oalah ternyata dari celah bawah. Sip besok dipasang tali rafia melintang supaya ga menghilang pas lg sayang2nya eh pas lagi hujan deras maksudnya.

Momo sampai sekarang belum ada yang nanyain padahal Momo anak yang aktif dan mandiri sekali. Kl memang masih ada rejeki, bermentallah mbayar walau itu dgn nabung, bukan cari gratisan (lirik komentar2 tayangan lama). Ta jamin penjenangan cepet sugih royo royo (segenap pengikut hening seketika ga ngerti gw ngomong apa apa)

#infosteril #Repost @valeuccio85 #infosteril Jakarta Selatan Teman2 berikut adalah kucing2 yang mencari adopter:

1. Mimi dan Mumu. Bersaudara. Sudah ada yang berminat mengadopsi Mimi dan juga sudah ada yang mau adopsi Mumu. Tinggal tunggu

2. Momo. Anak ini selalu merasa perlu menerobos kandang dan menaklukan dunia >.< coba ini coba itu. Momo tidak ada yang nanyain. 
3. Mama Iming dan Anaknya Imong blas ga ada yang nanyaib sama sekali. Saya bingung sebenarnya. Mau mengembalikan Mama ke jalan, lalu cari adopter utk Imong saja. Namun itu pun Imong tidak ada yang minat

4. Nah ada si Sabrina bersama Harapan di bawah Mama Iming dan Imong

5. Ada TENANG yang mirip dengan Sabrina. Tenang dan Sabrina memiliki bulu yang warnanya biasa saja. tampang pun ala kadarnya. Saya tahu susah cari adopter. Apalagi Tenang yang sudah semakin besar.. tapi

Mengapa saya mencari adopter? Pertama, kucing2 lain ada di ruangan lain yang semuanya pilek parah tidak sembuh2. Kebetulan kucing yang kena pilek tersebut sudah vaksin dan sudah dewasa. Sementara mereka ini masi rentan. Kedua, setiap bulannya budget utk steril kucing jalanan terpakai jika kucing kecil masih penuh di Rumah Steril. Padahal fokus kami adalah mensteril sebanyak2nya kucing jalanan dari dana yang terkumpul oleh pendaftar. 
Tolonglah saya. Sudah banyak kucing jalanan yang saya dekati utk jd target berikutnya.

Kicauan

Perpustakaan

Page Rank

Follow kisah pekerja lepas on WordPress.com

Profil Pekerjaan

%d bloggers like this: