kisah pekerja lepas

dan kesehariannya

Ada Perih dalam Konsekuensi

Saya masih manusia biasa yang punya rasa iri dan miris. Saya sebagai guru bukanlah bagian dari sekelompok guru yang dibayar sebesar guru-guru di sekolah Nasional Plus atau guru yang menjadi Pegawai Negeri Sipil. Rasa miris itu terasa mak-jleb banget ketika partner sendiri yang mengutarakan hal tersebut. Memang benar, latar belakang saya yang bukan di bidang IT dan Ilmu Pasti membuat saya sebenarnya tidak memiliki posisi tawar di sekolah – sekolah Nasional Plus

 

Di posisi sekolah negeri lebih lagi. Mereka tetap mengutamakan latar belakang sarjana kependidikan atau setidaknya dari Ilmu Pasti. Tidak perlu membandingkan dengan pegawai swasta atau pegawai bank, sesama guru pun saya memprihatinkan. Seorang guru yang sebenarnya hanya sekedar mengajar untuk mendapatkan gaji bulanan bisa mencicil rumah dengan mengurus 2 anak balita karena latar belakang pendidikan komputer, sementara saya.. ya sudahlah..

Guru di sekolah negeri ataupun di sekolah nasional plus sebenarnya tidak perlu lagi dengan getir mengatakan bahwa mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa karena tunjangan yang diberikan sudah memberikan kehidupan layak untuk para guru tersebut. Selalu ada konsekuensi untuk menjalani apa yang saya sudah putuskan di masa lalu. Tidak ada di bagian masa lalu yang ingin saya perbaiki karena saya terlalu gengsi untuk bilang ‘coba dulu ga jual rumah ya‘ atau ‘coba dulu ga beli franchise ya‘. Saya pantang untuk berlama-lama hidup dalam penyesalan. Saya berjalan maju antara terseok atau (pura-pura) tegar. Satu yang pasti setiap kali saya dalam titik nadir seperti ini, saya menangis beberapa detik dan belum berhasil mengontrol makan saya yang lebih karena alasan emosi.

-*-*-
MINGGU, 30 Maret 2014
Rasa sakit di perut & mata yg gatal karena terlalu dekat dengan bulu kucing telah menjadi pemantik rasa mengasihani diri saya sendiri (lagi). Sebenarnya rasa ngenes ini bukan sudah ada di dalam saya baik ketika masih menjadi lajang ataupun dengan partner. Istilah kate : my natural alarm is dwelling in my self-pity. Baiklah mari melanjutkan cerita. Saya akhirnya curhat kepada partner bahwa saya iri dengan orang lain (yang menurut pandangan mata saya) bisa menikmati hidup : ambil kelas internasional guru yoga, liburan di setiap kali ada akhir pekan +++, ataupun mendapat kesempatan ke luar negeri mengandalkan beasiswa S2 ataupun ngintil partner hidup masing-masing.

Saya jarang mewek ke partner selain karena jaim, saya takut diberi komentar yang cuma bikin saya tertohok. please don’t get me wrong. He is the best partner I ve ever got from God. Saya bersyukur dan berterimakasih banyak kepada Tuhan memiliki Ramot sebagai partner saya (well, actually in my past,no one chose me.. haha) cuma memang saya yang tidak bisa beradu pendapat. Jadi ketika saya mewek sore tadi saya sudah siap dengan konsekuensi dengan mendengar apapun komentar dari partner.

Soal keinginan saya berlibur, partner saya benar. Kalau mau libur ya sudah berangkat saja tanpa perlu khawatir bahwa usaha akan berantakan. Lagian kan yang terpanggil wirausaha buman saya #eh. Saya juga jadi ingat bahwa saya ingin melakukan perjalanan solo sebelum saya menceburkan ke dalam era komitmen. Akhirnya saya menemukan tawaran perjalanan yang terjangkau dengan keuangan saya yaitu ke Baduy.

Saya jelas menolak mentah-mentah ide bahwa ke Pekanbaru dan Pare bulan November nanti dipersepsi saya sebagai liburan. Hari-hari itu buat saya akan cuma melaksanakan kewajiban kepada manusia-manusia yang masih membutuhkan selembar kertas dan rangkaian upacara mendengarkan orang berbicara dalam bahasa yang tidak dipahami untuk bukti sebuah komitmen. Mau dibentuk pola pikir sepositif apapun, mengikuti sebuah rangkaian acara dalam ruang tertutup dengan bahasa yang bertele-tele (belum lagi berhadapan dengan kumpulan manusia yang tidak pernah tahu etiket makan) sangat menjemukan buat saya. Sangat sulit membayangkan bahwa tembok-tembok tersebut adalah samudera Hindia dan orang-orang yang sibuk berpetuah adalah burung berkicau atau pecahan air yang menghantam batu.

Jadi perih dalam sebuah konsekuensi selalu bisa diatasi bukan cuma sebatas menulis tapi melangkah melakukan sesuatu yang terbaik buat kesehatan mental kita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 25/03/2014 by in cuapcuap and tagged .

Ranah Rana

#Repost @valeuccio85 #infosteril Jakarta Selatan Teman2 berikut adalah kucing2 yang mencari adopter:

1. Mimi dan Mumu. Bersaudara. Sudah ada yang berminat mengadopsi Mimi dan juga sudah ada yang mau adopsi Mumu. Tinggal tunggu

2. Momo. Anak ini selalu merasa perlu menerobos kandang dan menaklukan dunia >.< coba ini coba itu. Momo tidak ada yang nanyain. 
3. Mama Iming dan Anaknya Imong blas ga ada yang nanyaib sama sekali. Saya bingung sebenarnya. Mau mengembalikan Mama ke jalan, lalu cari adopter utk Imong saja. Namun itu pun Imong tidak ada yang minat

4. Nah ada si Sabrina bersama Harapan di bawah Mama Iming dan Imong

5. Ada TENANG yang mirip dengan Sabrina. Tenang dan Sabrina memiliki bulu yang warnanya biasa saja. tampang pun ala kadarnya. Saya tahu susah cari adopter. Apalagi Tenang yang sudah semakin besar.. tapi

Mengapa saya mencari adopter? Pertama, kucing2 lain ada di ruangan lain yang semuanya pilek parah tidak sembuh2. Kebetulan kucing yang kena pilek tersebut sudah vaksin dan sudah dewasa. Sementara mereka ini masi rentan. Kedua, setiap bulannya budget utk steril kucing jalanan terpakai jika kucing kecil masih penuh di Rumah Steril. Padahal fokus kami adalah mensteril sebanyak2nya kucing jalanan dari dana yang terkumpul oleh pendaftar. 
Tolonglah saya. Sudah banyak kucing jalanan yang saya dekati utk jd target berikutnya. Hi this is Sabrina because she was found inside Sabri's shop

Sebelum saya cerita Sabrina, saya cerita Sabri dulu. di tahun 2013-2015 saya tinggal di #pinggirpasar yang banyak saya ceritakan di blog pribadi. Saya mengontrak kios sederhana persis di sebelah kios Sabri. 
Sabri toko kelontong. Saya melanjutkan usaha pindahan. Saya dan Sabri sama-sama merintis usaha sekaligus tinggal di kios tersebut. Ga usah tanya soal higienis, ventilasi, dsb, dst. Yang penting bisa tidur. Cukup sudah. Sabri dari Aceh. Saya dari Pasar Minggu haha. 
Dari yang awalnya sepi, kios Sabri bertambah ramai. April 2014 saya menemukan Goofy di pembuangan sampah di belakang hotel Bumi Wiyata. Saya mengajak Goofy pulang tanpa tali dan ketika tiba saya sudah siap kl Sabri ga setuju.

Namun Sabri justru tidak berkeberatan. Sadar bahwa org yang beragama Islam menganggap anjing najis dan mungkin ada kekhawatiran bahwa pelanggan jd takut krn Goofy, saya pun berjanji segera mencari pemilik Goofy / adopter. Lalu Sabri malah bilang 'jangan buk. anjing bagus. ga ada salah apa2 juga' (dengan aksen Acehnya yang setengah mati saya pahami). Saya ingat makanan pertama Goofy adalah kornet dan telur hasil ngutang sama Sabri. Nah sampai sekarang saya masih akrab dengan Sabri untuk membeli kebutuhan bulanan kantor #peentar. Saya bisa saja belanja ke supermarket itung2 jalan2 tp saya ingin ikut membantu rejeki Sabri mengingat bertahun2 dia mengijinkan saya utang belanjaan bayar pas ada uang (trust me Sabri saved my life a lot. when I was so hungry but I did not have money, I took instant noodle from him)

Malam menjelang saya berangkat ke Pulau Seribu 3 hr yang lalu, Saya seperti biasa bayar belanja bulanan. Sabri sedang sibuk di bawah kolong. Ternyata ada anak kucing di dalam. Sabri minta tolong saya bawa pulang karena nyaris terjepit karung tepung. Ya sudah. Masuklah Sabri-na ke dalam tas dan memulai masa foto-foto-demi-dapat-adopter. guys seriously.

Jarang2 saya sampai harus screenshot spt ini cuma kalian perlu belajar untuk cari info dulu sblm ketik komentar.

Sudah dijelaskan bahwa semua soal steril dan lokasi bisa dicari di #infosteril Terima kasih banyak. Matur nuwun sanget. Thank you very much for sharing your story with us.

#2016bestnine dari Rumah Steril sudah tayang. Ada cerita bahagia, ada cerita sedih, ada juga yang ga penting seperti Oreo yg main air dan Momo yang ngantuk jd objek foto demi mendapatkan adopter. Tanpa teman2 yang berbagi cerita, orang masih banyak yang bingung steril itu apa. 
Saya tidak pernah tahu sampai kapan urusan overpopulasi kucing dan anjing akan selesai di Indonesia. Yang saya tahu, semakin banyak org diajarkan tentang kesejahteraan hewan, semakin banyak org tergerak untuk membuat perubahan.

cek tagar #infosteril utk cari tahu info steril di kota terdekat. Iya kota terdekat. Ingat ga semua dokter hewan yang bs steril dan dbayar minim ada di kota kesayanganmu ;)

Kicauan

Perpustakaan

Page Rank

Follow kisah pekerja lepas on WordPress.com

Profil Pekerjaan

%d bloggers like this: