kisah pekerja lepas

dan kesehariannya

Merayakan 4 tahun

Menyatakan bahwa Jumat, 7 November 2014 sebagai awal dari perjalanan kami berdua koq rasanya (buat saya) basi ya. 4 tahun masa pacaran kami lebih mirip sebagai hubungan partner kerjasama setara nikah (minus seks). Saya ketok palu saja 7 November adalah perayaan 4 tahun kami. Jika bensin dimulai dari nol, maka ini dimulai dari 4.

Nov 2010 – Nov 2011

This slideshow requires JavaScript.

1 tahun pertama bisalah disebut pacaran.  1 tahun pertama ngapain aja? Luntang lantung dari mall ke mall antara pergi ke gereja (kadang di Grand Indonesia, kadang di MOI, kadang di Plasa Sentral, yang jelas setelah Ramot dengar kotbah selalu komentar dan merasa perlu mengajak saya berdebat), kelayapan, dan menutupi keterpurukan batal nikah (saya loh ya, kalau partner saya sih pria tangguh ala anak rantau). Saya menulis beberapa hal soal hubungan saya di tahun pertama tersebut di artikel ini. Bahkan sekalipun batal nikah, saya memperbaiki rancangan janji nikah saya juga.

Tepat setahun perayaan kami bersepakat membuka lapak bersama (terlalu muluk kalau dibilang merintis bisnis.. karena bisnis itu seharusnya lolos Wirausaha Muda Mandiri.. ini nggak koq.. bikin kami nombok sana sini malah iya). Sebuah keputusan yang ditentang oleh hampir banyak orang karena merintis usaha di saat belum menikah resiko ribut, bubar dan segala yang jelek. Buat saya ketika itu ? Oh biarin aja. Putus aja sekalian kalau perlu gw mau tahu sampai mana sih ketahanan orang ini menjalani apa yang ingin dia lakukan. Oh iya, partner saya ini memiliki keinginan untuk wirausaha. Saat itu saya berpikir saya cukup mendukung moril dan materi saja. Kenyataannya ? Jebakan batman. Printil-printil buka lapak bukanlah minatnya. Partner lebih ke arah berpikir ide besar dan saya yang melaksanakannya. Sama seperti proses manajemen stres batal nikah, pola hidup saya ketika menghadapi kenyataan bahwa saya juga akhirnya perlu turun mengurus lapak adalah :

mengumpat soal itu-mengasihani diri sendiri soal itu-iklas-menjalani dengan riang gembira.

Nov 2011 – Nov 2012

This slideshow requires JavaScript.

Naik turun ketidakstabilan emosi saya karena harus berjuang mengurus lapak dan menjadi guru terjadi di tahun kedua hubungan kami. Seiring berjalannya waktu kami pun membicarakan berbagai topik penting dan melakukan banyak hal nekat. Pembicaraan ini sengaja saya angkat biar sekalian aja : kalau ga cocok biar sekalian bubar. Kelihatan ya bahkan di tahun kedua, saya bukan tipe orang yang berminat untuk mempertahankan sebuah hubungan. Mending angkat pembicaraan berat sekarang daripada harus gontok-gontokan setelah pernikahan. Bongkar aja bongkar (eh di tahun ini sudah mulai ngetop belum sih merek kopi dengan jargon bongkar-bongkaran ?)

Nov 2012 – Nov 2013

ceritanya sik touring

ceritanya sik touring

Saya sudah keluar dari pekerjaan tetap saya. Perjalanan pekerja lepas demi fokus kepada lapak sudah dilaksanakan dan sepertinya hidup bukan makin mudah malah makin berat. Saya tetap menyelesaikan segala urusan printil lapak, mengantar cucian kami berdua ke laundry kiloan, menatanya di lemari yang kami pakai berdua secara tekun sejak kami merintis lapak di Depok. Itu sebabnya Kiat, teman kami, merasa kami lebih mirip pasangan hidup bersama karena kami mengelola lapak, membayar tagihan dan mengurus binatang peliharaan berdua. Sulit orang memahami bagaimana kami bisa tetap tinggal terpisah, bahwasanya Ramot hanya datang ke lapak dari pagi ke siang. Saya justru belum siap di pernikahan nanti Ramot akan ada sampai malam plus berbagi kasur. GA RELA.

Di tahun ini kami jauuhhh lebih kompak. Tanpa harus banyak saya berkotbah, Ramot berubah (hore berima!). Jika dua tahun pertama Ramot sibuk mempertanyakan kebaikan ke Tuhan dan saya cuma bisa berdoa sambil menangis, di tahun ini saya sudah menuai hasil doa saya (dan beberapa orang lain yang turut mendoakan Ramot dan Vivi #ehem #ehem). Saya yang dulunya menganggap Ramot sebelah mata karena pengetahuan Alkitabnya cuma selebar anak sekolah minggu baru bergabung, akhirnya mulai meminta Ramot mendoakan saya ketika saya sakit atau harus ambil keputusan penting. Di sini penghiburan saya yang orang lain tidak bisa rasakan. Bagaimana Tuhan sendiri berada di tengah-tengah kami, mendidik kami masing-masing di ruang kelas mungil bernama lapak. Saya begitu percaya Roh Kudus yang mengendalikan perasaan saya setiap kali tersinggung dengan kata-kata Ramot. Begitu juga sebaliknya. Percaya ga percaya ini adalah tahun dimulainya saya sering berucap ‘Puji Tuhan! akhirnya mudeng jugaaaa!!!’ untuk setiap pertanyaan Ramot yang akhirnya Tuhan bukakan sendiri untuk Ramot

Nov 2013 – Nov 2014

berdua natal 2012 2013 2014

kami mulai jarang ambil foto berdua. Saya yg sudah merasa bosan dan norak. Sekalinya ada.. 3 dari 4 foto ini diambil setelah pelayanan gereja #eeaa

Sedikit banyak urus binatang peliharaan, sama-sama pelayanan di gereja yang baru dirintis, dan lapak mungil membuat kami kompak dan saling mengisi satu sama lain. Saya melaksanakan printil pekerjaan dengan sukacita sekalipun melelahkan dan menyita seluruh waktu saya. Di rentang tahun ini saya kurang lebih bergantung secara ekonomi kepada partner. Saya yang sudah dari tahun 2006 mengelola penghasilan sendiri lalu tahu-tahu harus meminta uang tuh rasanya harga diri terbanting-banting. Loh kan minta uang ke partner ?? Teuteup aja sik. Gengsi. Nanya lagi mengapa saya belum bisa digaji dari lapak saya ? karena untungnya tak seberapa😉

Di rentang waktu ini saya juga belajar untuk rendah hati. Seperti tipikal pria Batak (rantau) pada umumnya, maka salah satu bentuk berbakti kepada orang tua adalah dengan membuat acara adat di kampung halaman. Saya ingat pernah bertanya apa yang menjadi dream weddingnya di tahun 2013. Jawaban Ramot ? Ga ada. Selama dia sudah memenuhi bakti ke ibunya ya sudah. Saya bersyukur untuk Ramot bahwa setiap kali dia harus transfer uang membayar acaranya, uang ada. Sebuah pemahaman yang butuh waktu untuk ditanamkan dalam logika berpikir Ramot bahwa Tuhan menyediakan kebutuhan tepat pada waktuNya. Saya sudah tahu dari empat tahun yang lalu waktuNya akan datang bahwa Ramot akan dididik Tuhan untuk percaya bahwa Tuhan sendiri yang menyediakan uang untuk acara Ramot di Pekanbaru.

Saya pribadi sempat mengasihani diri sendiri karena ketika itu dia menjanjikan kepada saya bahwa untuk mengakomodasi kebutuhan semuanya maka akan diadakan acara adat, pemberkatan dan acara dengan teman-teman kami di Depok. Kenyataannya semua meleset jauh. Jika saya harus hidup berjalan dengan perasaan, maka saya berlarut – larut mengasihani diri saya yang cuma bisa pakai baju pinjaman teman, tanpa ada acara resepsi kecil di Depok untuk teman-teman, apalagi bulan madu di Krabi karena setiap dana yang ada untuk acara adat. Orang yang menjalani adat secara sungguh-sungguh menganggap saya brengsek / ga benar / ga tahu adat dsb dst. Saya cuma mau bilang seperti ini : Saya perempuan metropolitan biasa. Saya punya akses majalah dan film Hollywood yang membentuk persepsi saya tentang pernikahan idaman. Kalau saya tinggal di dalam hutan dan cuma membantu orang tua di perkebunan sawit, mungkin saya sudah sujud syukur bisa ada acara adat di ibukota sebuah propinsi di Sumatera.

Ada satu ayat dari Alkitab yang menjadi pengingat saya ketika sedang menghadari sebuah sesi konseling pra-nikah :

But (Jesus) made himself of no reputation, and took upon him the form of a servant and was made in the likeness of men. (Phillippians 2 :7)

Ganjaran kerendahan hati dan takut akanTuhan adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan (Amsal 22 : 4)

Saya menulis ayat di atas dalam bahasa Inggris bukan karena sok-sokan inglis ya.. cuma memang gitu lah terjemahan Indonesianya kurang pas untuk pembahasan kali ini #tsah. Bukankah saya selalu berdoa ingin belajar menjadi murid yang sungguh-sungguh ? Jika Yesus saja menolkan reputasinya, pun juga saya. Saya sudah berdoa meminta Tuhan menyediakan berkat untuk di setiap acara tapi kalaupun ternyata sampai detik ini belum ada titik terang untuk tergenapinya impian saya ya jalani saja dengan riang. Mengucap syukur dalam segala hal bahkan ketika setiap khayalan saya tentang resepsi pernikahan dan bulan madu impian ditiadakan. Mengucap syukur ketika gaun yang saya pakai bukan hasil karya QZM (okeh Qozim memang lokasinya di pasar, tapi semua kaum inang-inang selalu bangga memamerkan kebaya keluaran doi) apalagi designer tapi cuma hibah dari klien yang pindahannya saya tangani. Dengan rendah hati saya memilih cincin kawin yang gramnya paling kecil untuk sesuai budget; beli di Pasar Depok bukan di Kaliem apalagi De Beers (hihihi iklan De Beers yang saya tonton berulang-berulang ketika kecil benar-benar menancap di memori).

Intinya melalui urusan pernikahan ini Tuhan Yesus mengajar kami masing-masing dengan pelajaran yang berbeda :

Ramot belajar percaya, Vivi belajar untuk rendah hati dan mengucap syukur dalam segala hal

Tadinya saya menganggap bahwa partner saya santai saja soal impian yang tidak terwujud mengingat dia tidak punya impian apa apa soal resepsi dan cikiprik cikipriknya.  Cuma saya yang drama queen (I am a normal person, if you think I accept it easily, you are wrong. I was angry, I wept, I shouted to Ramot vigorously). Namun ada satu hal yang membuat saya terharu (seriusan mau nangis dengan mata berkaca-kaca) ketika beberapa minggu sebelum hari H, partner menunjukkan wish-list yang ia susun. Saya tidak akan menuliskannya kata per kata karena itu adalah maha karya Ramot. Ijinkan saya mengutip beberapa butir saja dari wish-list yang ia buat. Yang tidak saya sebutkan di sini kemungkinan besar (menurut saya) tidak penting hehe :

…saya minta dalam nama Yesus bahwa Yesus memberkati saya berlimpah dengan semua yang saya perlukan dan memberi bonus semua yang saya inginkan..

  1. semua biaya dan kebutuhan pernikahan tercukupi berlimpah. Terutama dalam acara pernikahan saya dan vivi bisa merasa damai sejahtera dan senang (ya apalagi coba..)
  2. Saya bisa selalu setia dalam pernikahan (..sederhana mungkin.. tapi buat saya ini luar biasa)
  3. Hybrid tablet untuk Vivi (di bagian ini saya mata saya mulai basah.. sekalipun saya terbiasa pinjam komputer sana sini untuk mengerjakan laporan pekerjaan lepas, saya sebenarnya tidak pernah menyangka bahwa Ramot sangat memperhatikan hal tersebut)
  4.  5 kali liburan dalam setahun (di bagian ini saya sudah mbrebes mili. Saya sesungguhnya sudah mengiklaskan bahwa hidup saya minim liburan, nihil bulan madu, tapi toh itu ternyata dipikirkan Ramot)

Ijinkan saya sendiri membuat wish-list. Cuma satu.. ini terinspirasi dari celana jas pengantin Ramot yang robek besar dan akhirnya ditambal. Jas pengantin Ramot dibuat 4 tahun yang lalu kemudian sering dipakai untuk pelayanan gereja karena waktu itu tidak tahu kapan akan menikah daripada cuma menggantung ya dipakai saja. Mungkin karena sering naik motor, beberapa bulan yang lalu bahan celana terkoyak. Tadinya kami pikir bisalah beli baru lah wong buat sekali seumur hidup je! Namun dengan rendah hati diputuskan ditambal saja bukan beli baru lagi-lagi karena budget  :

Kami bisa punya uang untuk Ramot pesan tuxedo yang akan dia pakai di acara megah yang saya dengan begitu penuh semangat utk turut hadir🙂

Akhir kata (lah koq jadi kaya bikin pidato gini sik) saya ingin menampilkan visi dan misi pernikahan kami. Sebuah PR yang diberikan selama konseling pra nikah kami. Konseling ini membuat kami piknik ke Cakung dan Bekasi. Wuahahahaha dan di setiap sesi malah dapat makan (jadi malu >.<). Hasil obrolan kami dengan Pak Kris, Pak Glenn dan terakhir dengan Pak Josua Tumakaka sangat menginspirasi. Ya,, gimana ga menginspirasi ya.. di rumah Pak Glenn Minggu jam 9 malam. di rumah Pak Josua pagi-pagi jam 10.. Ada beberapa hal baru yang akan kami lakukan berdasarkan pengalaman mereka yang dibagikan kepada kami. Apakah ada pembicaraan di luar topik konseling pernikahan misalnya membicarakan soal Tiberias dulu ? Oh tentu saja tapi tentu cuma untuk kami berdua. wuahahaha. Lanjut.. Ada poin-poin penting yang saya catat di buku agenda. Bagaimana suami adalah kepala bukan untuk dilayani tapi melayani, menjadi imam dan menjadi sumber. Bagaimana melalui Grace Prayer kami belajar bahwa damai sejahtera kami ada dalam Roh Kudus (bukan tergantung dari pasangan).

tinggal nunggu videonya.

Pak Josua Tumakaka & Pak Kris

Visi dan Misi inilah yang membedakan hubungan kami di 4 tahun pertama dengan hubungan kami selanjutnya. Visi dan Misi inilah yang membuat Vivi tahu bahwa pernikahan ini bukan cuma karena Ramot yang mau tapi karena ada perjanjian kasih Tuhan di dalamnya. Buat Vivi, Visi dan Misi inilah yang memberi semangat baru menjalani hubungan bahwa pernikahan ini untuk hidup di dalam Tuhan dan menggenapi visi Tuhan yang ditaruh dalam hidup kami. Jauh lebih jelas mau dibawa ke mana dibanding janji nikah yang pernah saya buat. Oh iya Visi dan Misi ini kami buat sendiri (dengan direvisi oleh Pak Kris dan Pak Josua untuk memperjelas) jadi tentu saja masing-masing pasangan punya visi dan misi yang berbeda. Per 8 November kami lebih terarah dan jadi lebih terukur antara visi dan realisasi :

Visi : Membentuk keluarga yang riang, terbuka dan sungguh-sungguh menjadi murid Yesus untuk dapat memuridkan orang lain (bingung kenapa ada kata riang ? karena saya tahu menjalani hidup dengan pahit dan getir cuma membuat semakin terpuruk. Bagian memuridkan orang lain ditambahi Pak Josua hehe)

Misi : Mendidik anak dengan berdiri menjadi teladan, Membentuk kebiasaan sehari-hari agar setiap tindakan dan pikiran di dalam Yesus, Menumbuhkan kepedulian anak dengan sesama dengan teladan memberi makan 2 juta orang (antara muluk atau gila, Ramot sejak awal bercita-cita memberi makan 2 juta orang, untuk urusan ini saya tidak pernah mempertanyakan ataupun menertawakan. Saya selalu dukung sampai mentok. Itulah dasar beberapa tahun yang lalu saya berani membuka lapak bersama Ramot)

Di penghujung tulisan ini, ijinkan saya membagikan sebuah kesepakatan yang pernah dibuat Pak Josua dan Tante Elisabeth :

  1. Saling mengenal dan menerima

  2. Saling rendah hati dan mengampuni

  3. Saling memperhatikan dan peduli

  4. Saling belajar dan membangun

  5. Saling memberkati dan berbagi

  6. Saling mengalah dan menghargai

  7. Saling membela dan setia

4 comments on “Merayakan 4 tahun

  1. Pingback: #MantenAKAP | kisah guru

  2. tio
    03/02/2015

    happy ending, selamat ya…

  3. Pingback: Berpikir Kritis soal kasus Josua Tumakaka di Tiberias dulu | kisah pekerja lepas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 28/10/2014 by in pernikahan dan pra nikah and tagged .

Ranah Rana

don't you grateful that your kitten is willing to take care her little friend like this? They are not sisters but they can comfort each other. Harapan (Hope) is crying everytime Sabrina is not around and I am blessed I have Sabrina to stay with Harapan.

Ibu mertua saya (dan banyak org di luar sana yang tidak pelihara hewan) menanyakan mengapa saya cari masalah dengan pertambahan krucil ini yang kemungkinan dpt adopter tak semudah itu. Saya biasanya cuma membalas dengan senyum Pak Harto yang generasi Langgas biasanya bingung bentuk senyum ini seperti apa.

Sebenarnya ini semata2 karena saya tahu rasanya hidup sendiri. Sehari-hari di Depok saya lebih banyak berkomunikasi dengan org lewat mengetik drpd tatap muka dan berbicara. Sejak 2011 saya sendirian saya sudah melihat rupa kejadian yg bikin deg2an di Depok. saya bs merasakan kebingungan Goofy ketika dia harus mengais sampah, Maxi yang lumpuh ditinggal di pinggir jalan ataupun banyak kucing yang sudah saya tangani.

Semua mahluk mungkin bisa bertahan hidup sendirian tapi tidak semua sanggup menjalani hari dengan kesepian. Semua mahluk butuh mahluk lain sehingga ia merasa diperjuangkan, diutamakan dan diperhatikan. ini kandang no 2 kl ga salah disebutnya di kalangan pet shop. kl hujan2 begini saya suka bingung kenapa Mimi dan Mumu di kandang, Momo selalu bisa lolos. Saya jd iseng nungguin mereka kelar makan padahal kondisi saya jg sedang demam. Oalah ternyata dari celah bawah. Sip besok dipasang tali rafia melintang supaya ga menghilang pas lg sayang2nya eh pas lagi hujan deras maksudnya.

Momo sampai sekarang belum ada yang nanyain padahal Momo anak yang aktif dan mandiri sekali. Kl memang masih ada rejeki, bermentallah mbayar walau itu dgn nabung, bukan cari gratisan (lirik komentar2 tayangan lama). Ta jamin penjenangan cepet sugih royo royo (segenap pengikut hening seketika ga ngerti gw ngomong apa apa)

#infosteril #Repost @valeuccio85 #infosteril Jakarta Selatan Teman2 berikut adalah kucing2 yang mencari adopter:

1. Mimi dan Mumu. Bersaudara. Sudah ada yang berminat mengadopsi Mimi dan juga sudah ada yang mau adopsi Mumu. Tinggal tunggu

2. Momo. Anak ini selalu merasa perlu menerobos kandang dan menaklukan dunia >.< coba ini coba itu. Momo tidak ada yang nanyain. 
3. Mama Iming dan Anaknya Imong blas ga ada yang nanyaib sama sekali. Saya bingung sebenarnya. Mau mengembalikan Mama ke jalan, lalu cari adopter utk Imong saja. Namun itu pun Imong tidak ada yang minat

4. Nah ada si Sabrina bersama Harapan di bawah Mama Iming dan Imong

5. Ada TENANG yang mirip dengan Sabrina. Tenang dan Sabrina memiliki bulu yang warnanya biasa saja. tampang pun ala kadarnya. Saya tahu susah cari adopter. Apalagi Tenang yang sudah semakin besar.. tapi

Mengapa saya mencari adopter? Pertama, kucing2 lain ada di ruangan lain yang semuanya pilek parah tidak sembuh2. Kebetulan kucing yang kena pilek tersebut sudah vaksin dan sudah dewasa. Sementara mereka ini masi rentan. Kedua, setiap bulannya budget utk steril kucing jalanan terpakai jika kucing kecil masih penuh di Rumah Steril. Padahal fokus kami adalah mensteril sebanyak2nya kucing jalanan dari dana yang terkumpul oleh pendaftar. 
Tolonglah saya. Sudah banyak kucing jalanan yang saya dekati utk jd target berikutnya.

Kicauan

Perpustakaan

Page Rank

Follow kisah pekerja lepas on WordPress.com

Profil Pekerjaan

%d bloggers like this: