kisah pekerja lepas

dan kesehariannya

Liburan 2015 : Sadar Diri Sama yang Kasi Pinjaman

Saya dan partner memutuskan untuk bersikap realistis terhadap bulan madu. Kami memutuskan untuk pengganti bulan madu tersebut dengan liburan-liburan singkat. Saya pribadi memasuki pernikahan dengan rasa terpukul karena seperti menelan ludah sendiri. Saya seperti anak perempuan lainnya telah memiliki hari pernikahan impian bahkan ketika saya kelas 2 SD. Dari yang membayangkan resepsi di gedung Departemen Pertanian (karena semua tetangga saya menikah di situ) lalu semakin dewasa berubah menjadi resepsi pernikahan kecil dengan detail yang indah. Pasangan yang justru berhasil mewujudkannya adalah Kiat dan Ditta yang menikah 1 minggu sebelum saya.

Saya yang hanya menginginkan sesuatu yang kecil tapi mewah diperhadapkan dengan suatu acara ADAT (yg buat saya itu sunah bukan wajib) dengan biaya besar, dihadiri oleh orang-orang yg 99% tidak saya kenal (begitupun sebaliknya), hasil tata rias terburuk yang pernah saya lihat, hasil foto yang jelek, dan berakhir dengan hutang.  Bayangkan keluar biaya untuk sesuatu yang bukan saya ingin jalani, hasil buruk, lalu dapat salam dari cicilan. Yah untunglah acara wajibnya yang di Pare tidak ada hutang. Kecil, meriah, nol utang🙂

Pinjaman kami dapat 4 orang terbaik yang pernah saya kenal. 3 orang sangat mengenal Ramot dengan baik. 1 orang baru saya kenal setahun belakangan tapi kami seperti sudah seperti saudara lama. 1 hutang berupa cicilan kartu kredit. Tahu kan kartu kredit cuma baik jika tagihan dibayar lunas dan berubah menjadi menjemukan ketika diubah menjadi cicilan (loh koq penghitungan bunga jadi begini ? koq jadi ada biaya itu?). Saat ini bulan Maret 2015. 4 bulan saya sudah kewalahan. Cicilan dipastikan terus dilaksanakan tapi saya bingung mengingat berbagai tanggal jatuh tempo dengan setoran ke bank berbeda.

Saya ingat, pendeta kami, Pak Josua Tumakaka, di awal Desember 2014 memanggil kami dan mendoakan kami agar cicilan kami selesai dalam 1 tahun. Saya menangis ketika itu karena memang itu yang saya butuhkan. Jika dulu ketika saya punya hutang bisa diselesaikan dengan menjual rumah di Damarsari, saat ini saya tidak punya aset untuk dijual tapi di sisi lain saya hanya ingin badai hutang ini berlalu atau setidaknya saya cukup berhutang kepada satu pihak sehingga tidak perlu memikirkan berbagai lubang yang saya buat.

Nah karena soal ini lah kami tidak memiliki bulan madu dan menggantinya dengan liburan yang sanggup kami bayar tanpa mengganggu kas. Ini persis seperti yang pernah saya ucapkan ketika dulu kami pergi berlibur ke Pulau Tidung. Ramot masih dengan pacarnya. Saya sendiri ketika itu lajang foya foya. Haha.

Soal liburan hemat ini dari dalam hati saya sama sekali tidak merasa terpukul. Saya bersyukur masih memiliki waktu beberapa jam untuk keluar dari rutinitas melihat pemandangan bersama Ramot.

Bagian 1 : Situ Gunung – Januari 2015

Hari itu mendung diselingi hujan. Kami tetap memutuskan tetap berangkat. Rencana untuk menginap di Vila Cemara – Situ Gunung dibatalkan. Bukan cuma karena biaya yang terbatas tapi juga karena kami perlu mengurus beberapa binatang peliharaan yang sedang sakit. Perjalanan melalui jalur Sukabumi bukanlah pilihan yang tepat. Jalur ini melintasi banyak pasar, jalanan berlubang, dan puluhan truk besar milik perusahaan air mineral. Tiba di tempat saya dengan sembrono memilih jalur trekking. Becek, kehujanan, kena lintah. Semua jadi satu. Benar-benar menggambarkan kehidupan kami saat ini #halah. Akhirnya kami dapat menemukan situ gunung, naik perahu untuk memutari danau lalu pulang. Kurang lebih kami berada di situ selama 2 jam. Memang situ gunung lebih baik difoto ketika matahari terbit sehingga permainan warnanya lebih indah. Namun diperlukan waktu lebih untuk mewujudkan hal tersebut. Kami kali ini memutuskan ke Depok melalui jalur puncak. Tidak melalui Sukabumi. Saya terpukau sekali karena saya akhirnya bisa melintas di daerah Cianjur. Selama ini saya penasaran kemanakah jalur puncak akan berakhir ternyata di Cianjur. Sepanjang perjalanan jauh lebih lancar, jalan lebih bagus dan saya jadi tahu situs Gunung Padang. Hore!!! Penting banget ya. Hehehe. Walau cuma lihat jalan masuknya saja tapi cukuplah jadi lain waktu kalau mau ke sini ga kesasar.

Kami (baca saya) memutuskan untuk membeli oleh-oleh di Cimory. Dari yang hanya beli coklat berakhir duduk makan malam di restorannya. Menarik, nyaman, coklatnya enak. Yang terpenting kami selalu menikmati momen ketika kami mengamati sebuah bisnis keluarga yang berhasil. Tiba di Depok jam 11 malam. Meleset dua jam dari target tapi cukup mengembalikan semangat kami.

This slideshow requires JavaScript.

Bagian 2 : Gunung Padang – Maret 2015

Ketika kami mengambil jalan pulang yang berbeda dari jalan kami berangkat, kami sempat melihat plang yang menunjukkan ke arah situs megalitikum Gunung Padang. Kami pun memutuskan untuk ke Gunung Padang saja menggunakan kereta api. Kebetulan sedang diskon sehingga kami hanya membayar Rp. 20.000 per orang. Bolak balik jadi Rp. 40.000 per orang. Makanan kami bawa sendiri karena di daerah yang kami lalui belum ada tempat makanan yang memadai. Kami membawa sarapan sereal (Rp. 10.000), belimbing dan rambutan hasil panen orang di Depok (Rp. 20.000), dan 2 nasi goreng depan lapak (Rp. 20.000). Naik kereta jalur ini sudah lama saya rindukan. Saya memang sangat suka naik kereta api sampai ingin menjajal semua jalur kereta api di dunia hehe. Perjalanan tentu dimulai dari stasiun Pondok Cina sampai tiba di Stasiun Bogor. Menyebrang jembatan lalu berjalan ke Stasiun Bogor Paledang yang sudah ramai orang menukar tiket. Rombongan bapak ibu usia lima puluhan ternyata satu gerbong dengan kami. Mereka turun di Sukabumi, sementara kami masih melanjutkan perjalanan. Sama seperti kami, mereka memutuskan untuk liburan sejenak sehingga kami kembali satu gerbong ketika pulang.

Sebagai penikmat stasiun tua tentu sepanjang jalan saya sibuk memotret dengan model kamera hp.

This slideshow requires JavaScript.

Turun di stasiun Lampegan ternyata cuma kami berdua yang melanjutkan ke Gunung Padang. Menurut tukang ojek, wisatawan memang baru ramai datang di hari Sabtu dan Minggu. sempat foto sebentar, ke toilet stasiun lalu baru naik ojek (Rp. 70.000 per orang pp). Tadinya juga ingin ke sebuah air terjun yang sudah tercemar karena pertambangan emas tapi kami ragu apakah waktunya cukup atau tidak. Tiba di Gunung Padang dan membayar tiket masuk 4000 rupiah. Dua jalan yang tersedia dan kami memilih yang landai (itu pun saya sudah tersengal-sengal). Tiba di atas dan petugas sedang memotongi rumput. Pemandangannya memang menarik. Dari kejauhan bisa melihat rumah-rumah penduduk. Area situs sendiri sebenarnya tidak terlalu luas dan mungkin karena masih dalam penelitian, belum ada papan informasi yang bisa dibaca mengenai situs ini. Batu-batu tersusun rapi dan padat di ketinggian area seperti itu, yang buat memang sangat niat.

This slideshow requires JavaScript.

Begitu sampai di atas malas turun ke bawah hahaha soalnya masih ngos-ngosan plus angin yang cepoy cepoy. Cuma karena tidak ada lagi yang dapat kami lakukan selain foto-foto kami pun meluncur kembali ke stasiun dengan mampir ke kebun teh untuk sekedar foto. Ternyata daerah ini masih termasuk perkebunan teh untuk Teh Sosro. Ketika kembali di Lampegan kami sebenarnya masih memiliki waktu 1,5 jam sebelum kereta datang. Para petugas stasiun pun belum ada yang tiba. Loket ditutup tapi penumpang tetap bisa masuk. Saya jadi membayangkan beginilah kira-kira kegiatan stasiun Pare dulu kala sebelum Soeharto mematisurikan kereta dan fokus dengan jalan tol : dinamis dengan hilir mudik kereta tapi masih meluangkan waktu untuk pegawainya untuk makan siang di rumah masing-masing.

Kami sempat makan buah dan memutuskan berkeliling kampung di Lampegan. Detik bergulir dengan lambat sekali di sini. Suara pun lebih banyak hening. Cocok lah dengan saya. Sebagian besar penduduk bekerja di pengolahan teh. Ketika kami berjalan-jalan, pemetik teh baru saja selesai dari mengumpulkan teh, para bapak baru selesai bekerja di mesin pengolahan daun teh. Selebihnya kembali ke keheningan..

– bersambung … karena target kami 5 liburan di 2015 ini –

5 comments on “Liburan 2015 : Sadar Diri Sama yang Kasi Pinjaman

  1. Pingback: Perenungan Bahagia & Sukses di Pinggir Danau UI | kisah pekerja lepas

  2. Pingback: Belajar Investasi dan Mengelola Uang Melalui Reksadana | kisah pekerja lepas

  3. Pingback: Catatan #PinggirPasar : rumah | kisah pekerja lepas

  4. Pingback: Kupang | kisah pekerja lepas

  5. Pingback: Liburan 2015 : Sadar Diri (Lanjutan) | kisah pekerja lepas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 06/03/2015 by in liburan and tagged , , .

Ranah Rana

#Repost @valeuccio85 #infosteril Jakarta Selatan Teman2 berikut adalah kucing2 yang mencari adopter:

1. Mimi dan Mumu. Bersaudara. Sudah ada yang berminat mengadopsi Mimi dan juga sudah ada yang mau adopsi Mumu. Tinggal tunggu

2. Momo. Anak ini selalu merasa perlu menerobos kandang dan menaklukan dunia >.< coba ini coba itu. Momo tidak ada yang nanyain. 
3. Mama Iming dan Anaknya Imong blas ga ada yang nanyaib sama sekali. Saya bingung sebenarnya. Mau mengembalikan Mama ke jalan, lalu cari adopter utk Imong saja. Namun itu pun Imong tidak ada yang minat

4. Nah ada si Sabrina bersama Harapan di bawah Mama Iming dan Imong

5. Ada TENANG yang mirip dengan Sabrina. Tenang dan Sabrina memiliki bulu yang warnanya biasa saja. tampang pun ala kadarnya. Saya tahu susah cari adopter. Apalagi Tenang yang sudah semakin besar.. tapi

Mengapa saya mencari adopter? Pertama, kucing2 lain ada di ruangan lain yang semuanya pilek parah tidak sembuh2. Kebetulan kucing yang kena pilek tersebut sudah vaksin dan sudah dewasa. Sementara mereka ini masi rentan. Kedua, setiap bulannya budget utk steril kucing jalanan terpakai jika kucing kecil masih penuh di Rumah Steril. Padahal fokus kami adalah mensteril sebanyak2nya kucing jalanan dari dana yang terkumpul oleh pendaftar. 
Tolonglah saya. Sudah banyak kucing jalanan yang saya dekati utk jd target berikutnya. Hi this is Sabrina because she was found inside Sabri's shop

Sebelum saya cerita Sabrina, saya cerita Sabri dulu. di tahun 2013-2015 saya tinggal di #pinggirpasar yang banyak saya ceritakan di blog pribadi. Saya mengontrak kios sederhana persis di sebelah kios Sabri. 
Sabri toko kelontong. Saya melanjutkan usaha pindahan. Saya dan Sabri sama-sama merintis usaha sekaligus tinggal di kios tersebut. Ga usah tanya soal higienis, ventilasi, dsb, dst. Yang penting bisa tidur. Cukup sudah. Sabri dari Aceh. Saya dari Pasar Minggu haha. 
Dari yang awalnya sepi, kios Sabri bertambah ramai. April 2014 saya menemukan Goofy di pembuangan sampah di belakang hotel Bumi Wiyata. Saya mengajak Goofy pulang tanpa tali dan ketika tiba saya sudah siap kl Sabri ga setuju.

Namun Sabri justru tidak berkeberatan. Sadar bahwa org yang beragama Islam menganggap anjing najis dan mungkin ada kekhawatiran bahwa pelanggan jd takut krn Goofy, saya pun berjanji segera mencari pemilik Goofy / adopter. Lalu Sabri malah bilang 'jangan buk. anjing bagus. ga ada salah apa2 juga' (dengan aksen Acehnya yang setengah mati saya pahami). Saya ingat makanan pertama Goofy adalah kornet dan telur hasil ngutang sama Sabri. Nah sampai sekarang saya masih akrab dengan Sabri untuk membeli kebutuhan bulanan kantor #peentar. Saya bisa saja belanja ke supermarket itung2 jalan2 tp saya ingin ikut membantu rejeki Sabri mengingat bertahun2 dia mengijinkan saya utang belanjaan bayar pas ada uang (trust me Sabri saved my life a lot. when I was so hungry but I did not have money, I took instant noodle from him)

Malam menjelang saya berangkat ke Pulau Seribu 3 hr yang lalu, Saya seperti biasa bayar belanja bulanan. Sabri sedang sibuk di bawah kolong. Ternyata ada anak kucing di dalam. Sabri minta tolong saya bawa pulang karena nyaris terjepit karung tepung. Ya sudah. Masuklah Sabri-na ke dalam tas dan memulai masa foto-foto-demi-dapat-adopter. guys seriously.

Jarang2 saya sampai harus screenshot spt ini cuma kalian perlu belajar untuk cari info dulu sblm ketik komentar.

Sudah dijelaskan bahwa semua soal steril dan lokasi bisa dicari di #infosteril Terima kasih banyak. Matur nuwun sanget. Thank you very much for sharing your story with us.

#2016bestnine dari Rumah Steril sudah tayang. Ada cerita bahagia, ada cerita sedih, ada juga yang ga penting seperti Oreo yg main air dan Momo yang ngantuk jd objek foto demi mendapatkan adopter. Tanpa teman2 yang berbagi cerita, orang masih banyak yang bingung steril itu apa. 
Saya tidak pernah tahu sampai kapan urusan overpopulasi kucing dan anjing akan selesai di Indonesia. Yang saya tahu, semakin banyak org diajarkan tentang kesejahteraan hewan, semakin banyak org tergerak untuk membuat perubahan.

cek tagar #infosteril utk cari tahu info steril di kota terdekat. Iya kota terdekat. Ingat ga semua dokter hewan yang bs steril dan dbayar minim ada di kota kesayanganmu ;)

Kicauan

Perpustakaan

Page Rank

Follow kisah pekerja lepas on WordPress.com

Profil Pekerjaan

%d bloggers like this: