kisah pekerja lepas

dan kesehariannya

Mimpi Soal Papan Surya

Saya adalah manusia yang akhir-akhir ini sedang puasa bermimpi. Berhenti sejenak untuk bercita-cita ini itu karena hantaman kenyataan. Namun masih ada dua mimpi yang saya pelihara semangatnya. Ga harus saya yang mewujudkannya. Siapapun berhak mewujudkan mimpi saya karena buat saya mimpi bukan untuk dimonopoli. Mimpi untuk diteriakkan, untuk diceritakan, untuk dibagikan dengan resiko ditertawakan.

Mimpi pertama saya tentu saja masih soal steril 1000 kucing dan tidak ada lagi kucing yang hidup di jalanan mengais-ais sampah. Anda yang suka menjerit kecentilan setiap kali kucing lompat ke meja di warung tidak akan lagi menemukan kucing liar. Anda yang tanpa cari tahu dulu lebih mendalam menuduh kucing sebagai penyebar tokso akan menemukan kambing hitam baru untuk penyebar tokso karena kucing tidak sedekat mata menyapu pemandangan. Anda puas saya hidup tanpa resah.

Mimpi kedua saya mungkin akan terasa mustahil di masa ini. BO-DO A-MAT. Yang penting saya sudah menuliskannya. Baca fakta di bawah ini ?

Ya bisa jadi informasi di atas salah. Namun satu yang pasti saya ingin mengakhiri monopoli PLN terhadap ketersediaan listrik. Kalau untuk komunikasi telepon saja sudah ada perusahaan swasta yang menyaingi Telkom, mengapa tidak listrik ? Perihal air saya masih belum ada bayangan mimpi. Biar sajalah warga perkotaan terikat dengan dominasi Danone melalui air mineral Aqua dan kompetitornya. Orang kota itu memang mencari uang tak jemu-jemu untuk kembali disetorkan ke korporasi koq.

Mimpi saya adalah setiap kepala keluarga yang hanya dapat memperoleh penghasilan Rp. 3.000.000 (harga 2015 ya bok.. ke depannya dihitunglah inflasi) bisa memiliki papan surya sama seperti mereka bisa memiliki motor dengan mencicil tak jemu-jemu kepada penguasa oligopoli kendaraan roda dua. Para keluarga ini mungkin tinggal di pinggir rel Depok, mungkin di Waingapu, mungkin dengan idealisme syariah di Aceh, atau memandangi gemerlap Malaysia dari perbatasan tapi mereka bisa memasang papan surya ini di atap mereka entah itu dari rumbia atau seng, dari asbes atau kardus untuk menghasilkan listrik bagi kebutuhan keluarga mereka sendiri.

Tentu saja listrik yang dihasilkan bukan untuk kecentilan pasang AC atau menyalakan kulkas dan pompa air bersamaan tapi cukup untuk memastikan mereka bisa menyalakan lampu, charge ponsel dan 1 alat elektronik yang berwatt cukup besar. Kalau mereka merasa kurang boleh saja mereka tetap berlangganan PLN. Namun mereka setidaknya tahu, ketika PLN nyala dan mati sesuka hati, mereka bisa tetap memiliki sumber listrik.

Ya buat saya nyalanya ponsel di daerah pelosok lebih penting daripada nyalanya sebuah televisi. Dari ponsel mereka minimal bisa berkomunikasi syukur-syukur mencari informasi entah itu mau berkutat dengan satu sumber demi pembenaran idealisme atau mencari kebenaran sebuah isu dari berbagai sumber. Televisi (dalam hal ini tv nasional yang menjangkau daerah ya.  Bukan Nat Geo dkk) telah diatur sedemikian rupa menyempitkan pemikiran dan tidak mempertajam berpikir kritis.

Mereka tidak perlu repot mencari cara untuk membeli papan surya ini karena ada pasukan ibu-ibu yang getol menawarkan papan surya layaknya mamah muda mencari downline oriflame ataupun ibu penjual Yakult dengan sepedanya. Tawaran pembelian yang begitu rupa dengan pemasangan yang mudah semudah mereka memasang lemari 3 pintu Ikea dan pusat servis semudah Honda.

Saya puas jika PLN tidak perlu lagi menyalahkan orang miskin sebagai pencuri listrik. Kambing hitam mereka sudah cukup mandiri dengan papan di atap mereka. PLN tidak perlu terlalu banyak berpikir membuat PLTA di propinsi A, PLTN di propinsi B karena rakyat sudah berdaya sendiri. PLN cukup melayani orang-orang mampu yang siap membayar berapapun tagihan listrik mereka.

Matahari yang di Indonesia tidak lagi cuma disumpahi sebagai penyebab kulit hitam (padahal orang Indonesia tergila-gila kulit putih) karena matahari yang mereka sumpahi juga benda yang sama yang membuat mereka tidak perlu membayar listrik ke PLN yang lebih sering byar pet. Kehadiran matahari menjadi lebih dinanti dari sekedar mengeringkan jemuran atau hasil tangkapan.

Jika saya melihat kenyataan, maka mimpi ini menjadi rumit. Dari segi teknologi menciptakan papan penyimpan energi matahari menjadi listrik belum bisa begitu ringannya sehingga bisa dipasang atap murahan. Untuk itu saya BODO AMAT. Dari segi kebijakan politik, maka pengesahan dana aspirasi untuk anggota DPR lebih mudah daripada untuk kepentingan rakyat banyak. Lagi-lagi saya BODO AMAt. Yang penting saya sudah puas bermimpi dan menuliskannya di sini. Mimpi saya untuk melanjutkan S2, untuk memiliki bulan madu ataupun rumah dengan halaman luas biar saja digulung waktu. Saya sudah terbiasa bangun pagi dan menyadari bahwa saya hanya menjalani hidup untuk membayar tagihan. Saya sudah cukup bersyukur masih memiliki pekerjaan dengan jam waktu fleksibel sehingga di sela-sela kesibukan berkegiatan sosial (baca : mengajar anak tidak mampu) dan mengurus 22 anak kaki empat saya masih memiliki waktu untuk bermain-main dengan mimpi🙂

Terima kasih atas tanggapannya :

panel surya

One comment on “Mimpi Soal Papan Surya

  1. Pingback: Kalau Bisa GoJek Kenapa Gak GoTani? | kisah pekerja lepas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 23/06/2015 by in Ulasan and tagged , .

Ranah Rana

Kashmere & Goofy. I used to have ball for Goofy to play with but I lost it couple months ago. They seem happy to play with newspaper.. Ini kertas koran digelar supaya mereka bisa pipis dan pup waktu malam. Biasanya sih kl dibawa jalan, ga ada acara pipis malam. Cuma hari ini di Depok dingin jd gelar koran aja. Can I just write it : no caption needed just like selebgram? 
Kalau diperhatikan saya sekarang ga pernah cantumin tanggal apalagi harga karena saya tahu ada follower yang sekedar jadi mata2 dan ngomongin di belakang ;) Nah semua yang pernah wa ke saya jg nyadar saya akan selalu tanya nama dulu baru jelasin bla bla bla. 1. itu soal etiket ya dek. 2. saya selalu simpan semua data org2 yang tanya2. Beberapa bulan kemudian org tersebut cuma nanya sepele atau akhirnya daftar pasti saya jawab. Kadang aja suka kelewat :) Body Talk workshop. Further info please contact @drhrani :* So why some vets offer HUMAN birth control injection to cats? well many reasons I can't mention in social media of course. duuuhhh.

Is it safe? apakah aman? seminggu sekali saya selalu terima whatsapp org yang panik tanya apakah bisa steril kucingny pyometra segera. Begitu dari lubang vagina keluar cairan putih nanah, kejaran waktu dimulai antara : mendapatkan dokter hewan yang siap untuk tindakan operasi dan DANA. Kl pecah? ya RIP. sederhana. 
Lanjutkan suntik KB nya! lanjutkan sayang. Nangis2nya nanti ke dokter hewan yang suntikin ya. bukan ke saya.

#Repost @rumahsteril with @repostapp
・・・
Bulatan putih ini nanah yang kl sampai pecah berbahaya untuk kucingnya. 
Selain karena suntik KB, pyometra bisa terjadi karena beberapa sebab lainnya. #infosteril The main problem among Indonesian cat lovers: they can't afford neuter / spay fee. Even when they ask how much is it cost in Rumah Steril (±US$ 30), they still complaining the price is expensive. 
So what happen next? some vets in Indonesia offer human birth control injection. it is cheap with consequences. Pyometra for example. 
I do not mind. Feel free to keep doing it. not my cats anyway.

#Repost @rumahsteril with @repostapp
・・・
Belajar Yuk!
Ovarium yang sehat ada di kiri.
Ovarium yang tengah ada kista (bening jd memang susah keliatan sih).
Ovarium yang kanan penuh nanah. LANJUTKAN SUNTIK KB NYA. lanjutkannn.... #infosteril

Kicauan

Perpustakaan

Page Rank

Follow kisah pekerja lepas on WordPress.com

Profil Pekerjaan

%d bloggers like this: