kisah pekerja lepas

dan kesehariannya

Kucing & Teh

AnPGoEmEY6437yCkENB5R7qE89pTdl80BAkgtx0EegalSudah hampir dua minggu ini (total 1,5 bulan) saya dibawa dalam turbulensi emosi menghadapi kucing Monday. Kucing yang saya urus sejak umur 3 minggu, sakit tanpa saya pahami sebenarnya dia sakit apa. Mirip dengan apa yang dialami Upik, sakit yang dialami Monday lebih karena memang sudah keturunannya begitu. Cukup banyak biaya yang saya keluarkan untuk mengobati Upik dan Monday, tapi terlebih dari itu semua adalah naik turunnya emosi. Kucing-kucing ini kawan seperjuangan saya. Kadang saya senang melihat Monday semangat makan, kadang saya pilu ketika Monday susah mengunyah. Saya sadar kondisi Monday terus menurun tapi setidaknya saya tahu Monday ada epilepsi dan gangguan syaraf.

Monday yang tadinya adalah kucing gemuk pemakan segala pelan-pelan berat badannya menyusut. Saya terlatih untuk tidak menangis karena menangis hanya membuat saya sulit fokus, sulit untuk bernalar. Lalu di tengah kekalutan tersebut, sebuah kicauan di Twitter muncul

Bola ini sudah lama saya cari. Dulu pernah sempat saya ingin membeli di sebuah toko perlengkapan di Jakarta cuma saya urung membeli karena saya ragu apakah saya akan rutin memakainya. Namun di kemudian hari saya menyadari bahwa saya punya standar minum teh yang menyebalkan : Legi-Panas-Kentel. Detil cerita bagaimana saya membuat teh dengan idealisme tersebut malas saya tuliskan di sini karena saya harus terus menerus memantau Monday (yang jelas saya pernah tersiram air panas karena terpental saringan teh plastik biasa).

Singkat kata singkat cerita, membuat teh tubruk buat saya belum mencapai tahap kesempurnaan sebelum adanya bola tersebut. Warna pekat bisa dicapai sambil air masih tetap panas mendidih. Iya saya beraliran debus : teh dan kopi harus panas mendidih saya minum atau saya lebih memilih membuat ulang. Karena bukankah dalam hidup kita harus panas atau dingin jangan suam2 kuku? *comot sembarang ayat Alkitab*

Saya sadar dalam hidup, saya tidak pernah mendapatkan segala sesuatu dengan instan, setelah bertahun-tahun, akhirnya kesempatan itu datang. Sama seperti saringan teh ini. Uang di saldo ketika itu sebenarnya tidak banyak. Namun saya nekat saja, saya butuh hiburan di tengah kondisi yang naik turun menghadapi Monday. Minggu ditransfer, Selasa barang diterima. Senang rasanya mendengar suara tukang pos sekalipun tukang posnya terbirit-birit pergi karena ada Goofy. Saya sempat kaget ketika menerima barang dengan bonus teh. Rasanya terharu. Setelah semua kesedihan, kebingungan, kepanikan mengurus Monday, memperoleh bonus teh seperti hiburan tersendiri. Saya membaca kertas kecil yang tertulis : black milk tea Saigon kemudian membayangkan diri saya di dalam Tour of Duty *eeaa*. Saya sebenarnya bingung kenapa namanya ada milk-nya padahal ga ada susunya? Ternyata setelah saya seduh, baru saya paham, memang ada rasa susunya sekalipun warna teh tetap merah.

AmeYjvN-kIbXEXQbMIZBUklkiIn05lDYzsRYLlZGyI7i

Di akhir penulisan, saya jadi mikir, apalagi yang saya inginkan selama bertahun-tahun dan akhirnya saya endapkan begitu saja dalam kenyataan hidup (selain berat badan ideal) ? Ternyata masih seputar mengambil s2 dan mencoba beragam kereta api di luar negeri..

blog

One comment on “Kucing & Teh

  1. Pingback: Kilas Balik 2015 : Soal Kucing | kisah pekerja lepas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 01/10/2015 by in cuapcuap and tagged .

Ranah Rana

don't you grateful that your kitten is willing to take care her little friend like this? They are not sisters but they can comfort each other. Harapan (Hope) is crying everytime Sabrina is not around and I am blessed I have Sabrina to stay with Harapan.

Ibu mertua saya (dan banyak org di luar sana yang tidak pelihara hewan) menanyakan mengapa saya cari masalah dengan pertambahan krucil ini yang kemungkinan dpt adopter tak semudah itu. Saya biasanya cuma membalas dengan senyum Pak Harto yang generasi Langgas biasanya bingung bentuk senyum ini seperti apa.

Sebenarnya ini semata2 karena saya tahu rasanya hidup sendiri. Sehari-hari di Depok saya lebih banyak berkomunikasi dengan org lewat mengetik drpd tatap muka dan berbicara. Sejak 2011 saya sendirian saya sudah melihat rupa kejadian yg bikin deg2an di Depok. saya bs merasakan kebingungan Goofy ketika dia harus mengais sampah, Maxi yang lumpuh ditinggal di pinggir jalan ataupun banyak kucing yang sudah saya tangani.

Semua mahluk mungkin bisa bertahan hidup sendirian tapi tidak semua sanggup menjalani hari dengan kesepian. Semua mahluk butuh mahluk lain sehingga ia merasa diperjuangkan, diutamakan dan diperhatikan. ini kandang no 2 kl ga salah disebutnya di kalangan pet shop. kl hujan2 begini saya suka bingung kenapa Mimi dan Mumu di kandang, Momo selalu bisa lolos. Saya jd iseng nungguin mereka kelar makan padahal kondisi saya jg sedang demam. Oalah ternyata dari celah bawah. Sip besok dipasang tali rafia melintang supaya ga menghilang pas lg sayang2nya eh pas lagi hujan deras maksudnya.

Momo sampai sekarang belum ada yang nanyain padahal Momo anak yang aktif dan mandiri sekali. Kl memang masih ada rejeki, bermentallah mbayar walau itu dgn nabung, bukan cari gratisan (lirik komentar2 tayangan lama). Ta jamin penjenangan cepet sugih royo royo (segenap pengikut hening seketika ga ngerti gw ngomong apa apa)

#infosteril #Repost @valeuccio85 #infosteril Jakarta Selatan Teman2 berikut adalah kucing2 yang mencari adopter:

1. Mimi dan Mumu. Bersaudara. Sudah ada yang berminat mengadopsi Mimi dan juga sudah ada yang mau adopsi Mumu. Tinggal tunggu

2. Momo. Anak ini selalu merasa perlu menerobos kandang dan menaklukan dunia >.< coba ini coba itu. Momo tidak ada yang nanyain. 
3. Mama Iming dan Anaknya Imong blas ga ada yang nanyaib sama sekali. Saya bingung sebenarnya. Mau mengembalikan Mama ke jalan, lalu cari adopter utk Imong saja. Namun itu pun Imong tidak ada yang minat

4. Nah ada si Sabrina bersama Harapan di bawah Mama Iming dan Imong

5. Ada TENANG yang mirip dengan Sabrina. Tenang dan Sabrina memiliki bulu yang warnanya biasa saja. tampang pun ala kadarnya. Saya tahu susah cari adopter. Apalagi Tenang yang sudah semakin besar.. tapi

Mengapa saya mencari adopter? Pertama, kucing2 lain ada di ruangan lain yang semuanya pilek parah tidak sembuh2. Kebetulan kucing yang kena pilek tersebut sudah vaksin dan sudah dewasa. Sementara mereka ini masi rentan. Kedua, setiap bulannya budget utk steril kucing jalanan terpakai jika kucing kecil masih penuh di Rumah Steril. Padahal fokus kami adalah mensteril sebanyak2nya kucing jalanan dari dana yang terkumpul oleh pendaftar. 
Tolonglah saya. Sudah banyak kucing jalanan yang saya dekati utk jd target berikutnya.

Kicauan

Perpustakaan

Page Rank

Follow kisah pekerja lepas on WordPress.com

Profil Pekerjaan

%d bloggers like this: