kisah pekerja lepas

dan kesehariannya

Kalau Bisa GoJek Kenapa Gak GoTani?

2015 sepertinya tahun yang lebih menarik buat saya sebagai pemantau dunia pemasaran, periklanan, dan digital (okelah sebenarnya saya memantau semua sik.. kecuali sinetron), fenomena GoJek ini menarik untuk dibahas dari berbagai sudut pandang. Satu yang saya ingin soroti adalah kejadian ketika Gojek merekrut massal di Istora Senayan. Begitu banyak orang berbondong-bondong menjadi pengemudi GoJek. Mendadak tukang ojek menjadi pilihan pekerjaan yang seksi sebagai alternatif penambahan penghasilan.

Saya sendiri sempat berpikir menjadi tukang ojek digital ini ketika tidak ada tanda-tanda utang kewong bergerak ke arah penurunan yang signifikan. Lalu teman saya berkomentar, ngapain jadi tukang ojek. Panas berdebu. Em, masalahnya utang yang dibukukan di Bank ber-AC ga peduli gue kepanasan atau kena angin cepoy cepoy, yang penting BAYAAAARR!! Namun rencana jadi tukang ojek digital tersebut urung saya laksanakan karena.. manusia berencana, Tuhan bercanda (akan ada postingan khusus soal utang kewong ini ya cynn. stay tuned. tsah)

Jika diperhartikan ratusan orang dengan setia memantau ponsel pintar mereka di bawah terik panas dan hembusan El Nino 2015 untuk mendapatkan tarikan dari GoJek. Sudah banyak yang mengeluh sepi, karena mendadak perusahaan besar lainnya terjun bebas meniru hal yang sama. Saya antara iba atau kasihan. Pemilik perusahaan besar yang saya yakin lebih banyak jalan ke luar negeri dan memperoleh paparan hal baru dari berbagai belahan dunia koq bisanya cuma niru. Kasian itu programer cerdas dari Jakarta, Jogja, Surabaya cuma untuk jadi peniru. Mengapa tidak merintis sektor usaha yang lain toh sama-sama sudah membuat anak perusahaan baru?

Memandangi orang-orang yang bertahan dalam panas dan pengapnya ibu kota, saya berpikir bagaimana caranya petani urban menjadi sebuah profesi yang seksi dan menjanjikan? Saya ingat dulu ketika iseng ke Hypermart (saya mahluk jarang berbelanja jadi bisa dihitung dengan jari berapa kali saya masuk supermarket dalam setahun) dan menemukan kaleng ini :

K for K juga bagian dari dekorasi

K for K juga bagian dari dekorasi

Sebenarnya K for K ini untuk menumbuhkan minat anak untuk berkebun (dalam hal ini menanam sayur bukan menanam harapan kepada mantan ataupun kenangan #eeaa). Jika diperhatikan, langkah-langkah yang disampaikan sangat jelas. Tentu saja karena ini untuk mendidik anak-anak ada lembar observasi pengukuran dan sebagainya. Langkah jelas inilah yang dibutuhkan petani urban. Saya membayangkan petani urban ini dapat bercocok tanam secara sistematis dan terukur karena panduannya jelas. Tentu ada proses belajarnya. Sama seperti tukang ojek pangkalan yang cuma tawar-tawaran lalu cuss, sedangkan tukang ojek digital perlu belajar menggunakan aplikasi. Begitu pun petani urban ini.

Tentu saja ada perlu ada kolaborasi antara produsen bibit, sebuah perusahaan IT dalam bidang Internet of Things (tsahh gaya banget gw ngomongnya) dan perusahan logistik sehingga petani urban bisa memilih tanaman yang mereka garap, bibit bisa ditanam dengan mudah di kota pengap seperti JadeTaBek lalu ada tim yang keliling mengambil hasil panen dari rumah ke rumah berdasarkan informasi panen yang mereka terima di ponsel. Perlu juga ada pasar/pedagang sehingga menjamin para petani urban ini memperoleh penghasilan (sayur produksi mereka bukan berakhir dibuang di got seperti prahara tomat beberapa bulan yang lalu). Prinsipnya seperti farmville (mainan yang sempat populer di FB) namun dilakukan secara bersama.

Gerakan petani urban ini setidaknya membuka celah usaha sampingan baru dengan tidak melulu menjual MLM Oriflame dengan jargon monoton atau tukang ojek. Menjadi petani urban sekaligus memotong biaya distribusi yang sebenarnya membuat harga sayuran di perkotaan naik beberapa kali lipat dibanding dari petaninya langsung. Ide tinggalah ide. Sama seperti soal surya panel, semua ini tinggal eksekusi. Mending saya tulis dulu idenya, siapa tahu semesta menyertai. Ada amin pemirsa????

This slideshow requires JavaScript.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 27/10/2015 by in lesson and tagged .

Ranah Rana

don't you grateful that your kitten is willing to take care her little friend like this? They are not sisters but they can comfort each other. Harapan (Hope) is crying everytime Sabrina is not around and I am blessed I have Sabrina to stay with Harapan.

Ibu mertua saya (dan banyak org di luar sana yang tidak pelihara hewan) menanyakan mengapa saya cari masalah dengan pertambahan krucil ini yang kemungkinan dpt adopter tak semudah itu. Saya biasanya cuma membalas dengan senyum Pak Harto yang generasi Langgas biasanya bingung bentuk senyum ini seperti apa.

Sebenarnya ini semata2 karena saya tahu rasanya hidup sendiri. Sehari-hari di Depok saya lebih banyak berkomunikasi dengan org lewat mengetik drpd tatap muka dan berbicara. Sejak 2011 saya sendirian saya sudah melihat rupa kejadian yg bikin deg2an di Depok. saya bs merasakan kebingungan Goofy ketika dia harus mengais sampah, Maxi yang lumpuh ditinggal di pinggir jalan ataupun banyak kucing yang sudah saya tangani.

Semua mahluk mungkin bisa bertahan hidup sendirian tapi tidak semua sanggup menjalani hari dengan kesepian. Semua mahluk butuh mahluk lain sehingga ia merasa diperjuangkan, diutamakan dan diperhatikan. ini kandang no 2 kl ga salah disebutnya di kalangan pet shop. kl hujan2 begini saya suka bingung kenapa Mimi dan Mumu di kandang, Momo selalu bisa lolos. Saya jd iseng nungguin mereka kelar makan padahal kondisi saya jg sedang demam. Oalah ternyata dari celah bawah. Sip besok dipasang tali rafia melintang supaya ga menghilang pas lg sayang2nya eh pas lagi hujan deras maksudnya.

Momo sampai sekarang belum ada yang nanyain padahal Momo anak yang aktif dan mandiri sekali. Kl memang masih ada rejeki, bermentallah mbayar walau itu dgn nabung, bukan cari gratisan (lirik komentar2 tayangan lama). Ta jamin penjenangan cepet sugih royo royo (segenap pengikut hening seketika ga ngerti gw ngomong apa apa)

#infosteril #Repost @valeuccio85 #infosteril Jakarta Selatan Teman2 berikut adalah kucing2 yang mencari adopter:

1. Mimi dan Mumu. Bersaudara. Sudah ada yang berminat mengadopsi Mimi dan juga sudah ada yang mau adopsi Mumu. Tinggal tunggu

2. Momo. Anak ini selalu merasa perlu menerobos kandang dan menaklukan dunia >.< coba ini coba itu. Momo tidak ada yang nanyain. 
3. Mama Iming dan Anaknya Imong blas ga ada yang nanyaib sama sekali. Saya bingung sebenarnya. Mau mengembalikan Mama ke jalan, lalu cari adopter utk Imong saja. Namun itu pun Imong tidak ada yang minat

4. Nah ada si Sabrina bersama Harapan di bawah Mama Iming dan Imong

5. Ada TENANG yang mirip dengan Sabrina. Tenang dan Sabrina memiliki bulu yang warnanya biasa saja. tampang pun ala kadarnya. Saya tahu susah cari adopter. Apalagi Tenang yang sudah semakin besar.. tapi

Mengapa saya mencari adopter? Pertama, kucing2 lain ada di ruangan lain yang semuanya pilek parah tidak sembuh2. Kebetulan kucing yang kena pilek tersebut sudah vaksin dan sudah dewasa. Sementara mereka ini masi rentan. Kedua, setiap bulannya budget utk steril kucing jalanan terpakai jika kucing kecil masih penuh di Rumah Steril. Padahal fokus kami adalah mensteril sebanyak2nya kucing jalanan dari dana yang terkumpul oleh pendaftar. 
Tolonglah saya. Sudah banyak kucing jalanan yang saya dekati utk jd target berikutnya.

Kicauan

Perpustakaan

Page Rank

Follow kisah pekerja lepas on WordPress.com

Profil Pekerjaan

%d bloggers like this: