kisah pekerja lepas

dan kesehariannya

Cerita tentang Dolly

‘Gw lebih suka kucing daripada anjing’

‘Gw lebih suka anjing daripada kucing’

Kurang lebih begitu kubu pecinta binatang berbulu ini memisahkan diri seperti TemanAhok dan Redaksi Tempo. Tentu tidak sepanas Teman Ahok vs Tempo karena tidak ada yang dibayar untuk memuja salah satu kubu. Kalau orang bertanya kepada saya, mana yang saya suka, ini jawabannya:

Saya berpihak kepada yang tertindas

Saya berpihak kepada yang dibuang karena saya pernah dianggap gampang

Saya berpihak kepada yang ketakutan karena saya tahu rasanya kesepian

Saya berpihak kepada lemah karena saya tahu rasanya hati yang patah

-viviong-

Jadi entah itu anjing, kucing, ular (sekalipun saya stres kalau harus pegang ular), musang, orang korban gusuran, orang ditipu, saya merasa perlu berbuat sesuatu. Sering saya tidak bisa melakukan banyak. Anda tidak pernah tahu di setiap perjalanan, ketika saya melihat orang ataupun hewan yang menderita dan tidak bisa turun, saya mengangkat tangan dan berdoa.

Ketika Dolly tiba, tentu saja saya senang anjing ini akan hidup lebih riang di UI tanpa harus berulang kali beranak. Dolly datang dengan unjuk gigi. Menggeram marah. Sekalipun ada kandang besar, saya sempat gentar. Saya memang tidak cukup bertangan dingin menghadapi anjing. Lebih bisa di kucing. (akhirnya saya menyadari memang watak saya lebih seperti kucing..itu sebabnya saya lebih sehati dengan kucing.. you know spoiled brat). Setelah steril, Dolly masih menunjukkan jaraknya. Saya pun masih terus mendekatinya. Dulu pernah seorang pengajar saya bilang:

you want to teach kids with severe autism? Learn how to train a dog

Kesannya koq disamain ya. Namun akhirnya saya amini juga. Sekalipun saya agak kurang berwibawa, tapi saya cukup paham melatih pembentukan perilaku (shaping behavior). Saya mulai dengan melatih dia terbiasa dengan tali. Kemudian saya latih berjalan dengan tali bersama saya. Bukan saya yang ikuti mau dia, tapi saya yang atur ke mana dia melangkah. Oh ya Dolly akhirnya berjalan ke luar kandang dan hidup dengan Goofy dan Pippo karena ada sedikit pendarahan di saluran kemih. Saya pastikan dulu dia sembuh baru kembali ke UI karena ini menyangkut profesionalisme Rumah Steril. Saya tidak menghitung hari per hari Dolly di Beji karena buat saya, ini sumbangan yang bisa saya lakukan selain berdoa.

Dolly bisa segera akrab dengan Goofy. Sementara Pippo memilih melipir karena badannya yang mungil. Dolly memang suka iseng dengan anak-anak kucing, tapi dengan adanya Dolly saya juga berlatih mengatur tonase suara saya sehingga anjing bisa menangkap ketegasan saya. Syukurlah di hari-hari terakhir Dolly tinggal di Beji, Dolly, Goofy, dan Pippo bisa menangkap bahwa suara saya sekarang lebih gahar. Hahahaha.

Dolly sekarang kembali ke UI karena apapun terjadi rumah buat Dolly ya bersama anak-anaknya dengan halaman luas. Bukan cuma sekedar kontrakan mungil dan sekalinya berlari seluruh anak kampung bersorak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 23/06/2016 by in anjingkucing and tagged .

Ranah Rana

#Repost @valeuccio85 #infosteril Jakarta Selatan Teman2 berikut adalah kucing2 yang mencari adopter:

1. Mimi dan Mumu. Bersaudara. Sudah ada yang berminat mengadopsi Mimi dan juga sudah ada yang mau adopsi Mumu. Tinggal tunggu

2. Momo. Anak ini selalu merasa perlu menerobos kandang dan menaklukan dunia >.< coba ini coba itu. Momo tidak ada yang nanyain. 
3. Mama Iming dan Anaknya Imong blas ga ada yang nanyaib sama sekali. Saya bingung sebenarnya. Mau mengembalikan Mama ke jalan, lalu cari adopter utk Imong saja. Namun itu pun Imong tidak ada yang minat

4. Nah ada si Sabrina bersama Harapan di bawah Mama Iming dan Imong

5. Ada TENANG yang mirip dengan Sabrina. Tenang dan Sabrina memiliki bulu yang warnanya biasa saja. tampang pun ala kadarnya. Saya tahu susah cari adopter. Apalagi Tenang yang sudah semakin besar.. tapi

Mengapa saya mencari adopter? Pertama, kucing2 lain ada di ruangan lain yang semuanya pilek parah tidak sembuh2. Kebetulan kucing yang kena pilek tersebut sudah vaksin dan sudah dewasa. Sementara mereka ini masi rentan. Kedua, setiap bulannya budget utk steril kucing jalanan terpakai jika kucing kecil masih penuh di Rumah Steril. Padahal fokus kami adalah mensteril sebanyak2nya kucing jalanan dari dana yang terkumpul oleh pendaftar. 
Tolonglah saya. Sudah banyak kucing jalanan yang saya dekati utk jd target berikutnya. Hi this is Sabrina because she was found inside Sabri's shop

Sebelum saya cerita Sabrina, saya cerita Sabri dulu. di tahun 2013-2015 saya tinggal di #pinggirpasar yang banyak saya ceritakan di blog pribadi. Saya mengontrak kios sederhana persis di sebelah kios Sabri. 
Sabri toko kelontong. Saya melanjutkan usaha pindahan. Saya dan Sabri sama-sama merintis usaha sekaligus tinggal di kios tersebut. Ga usah tanya soal higienis, ventilasi, dsb, dst. Yang penting bisa tidur. Cukup sudah. Sabri dari Aceh. Saya dari Pasar Minggu haha. 
Dari yang awalnya sepi, kios Sabri bertambah ramai. April 2014 saya menemukan Goofy di pembuangan sampah di belakang hotel Bumi Wiyata. Saya mengajak Goofy pulang tanpa tali dan ketika tiba saya sudah siap kl Sabri ga setuju.

Namun Sabri justru tidak berkeberatan. Sadar bahwa org yang beragama Islam menganggap anjing najis dan mungkin ada kekhawatiran bahwa pelanggan jd takut krn Goofy, saya pun berjanji segera mencari pemilik Goofy / adopter. Lalu Sabri malah bilang 'jangan buk. anjing bagus. ga ada salah apa2 juga' (dengan aksen Acehnya yang setengah mati saya pahami). Saya ingat makanan pertama Goofy adalah kornet dan telur hasil ngutang sama Sabri. Nah sampai sekarang saya masih akrab dengan Sabri untuk membeli kebutuhan bulanan kantor #peentar. Saya bisa saja belanja ke supermarket itung2 jalan2 tp saya ingin ikut membantu rejeki Sabri mengingat bertahun2 dia mengijinkan saya utang belanjaan bayar pas ada uang (trust me Sabri saved my life a lot. when I was so hungry but I did not have money, I took instant noodle from him)

Malam menjelang saya berangkat ke Pulau Seribu 3 hr yang lalu, Saya seperti biasa bayar belanja bulanan. Sabri sedang sibuk di bawah kolong. Ternyata ada anak kucing di dalam. Sabri minta tolong saya bawa pulang karena nyaris terjepit karung tepung. Ya sudah. Masuklah Sabri-na ke dalam tas dan memulai masa foto-foto-demi-dapat-adopter. guys seriously.

Jarang2 saya sampai harus screenshot spt ini cuma kalian perlu belajar untuk cari info dulu sblm ketik komentar.

Sudah dijelaskan bahwa semua soal steril dan lokasi bisa dicari di #infosteril Terima kasih banyak. Matur nuwun sanget. Thank you very much for sharing your story with us.

#2016bestnine dari Rumah Steril sudah tayang. Ada cerita bahagia, ada cerita sedih, ada juga yang ga penting seperti Oreo yg main air dan Momo yang ngantuk jd objek foto demi mendapatkan adopter. Tanpa teman2 yang berbagi cerita, orang masih banyak yang bingung steril itu apa. 
Saya tidak pernah tahu sampai kapan urusan overpopulasi kucing dan anjing akan selesai di Indonesia. Yang saya tahu, semakin banyak org diajarkan tentang kesejahteraan hewan, semakin banyak org tergerak untuk membuat perubahan.

cek tagar #infosteril utk cari tahu info steril di kota terdekat. Iya kota terdekat. Ingat ga semua dokter hewan yang bs steril dan dbayar minim ada di kota kesayanganmu ;)

Kicauan

Perpustakaan

Page Rank

Follow kisah pekerja lepas on WordPress.com

Profil Pekerjaan

%d bloggers like this: