ASEM Si Jiwa Depresif

Beberapa waktu yang lalu saya membuat sebuah pengakuan nekat dalam sebuah tulisan bahwa saya memiliki kecenderungan depresi kelas bulu. Tidak mudah sebenarnya menulis seperti itu. Saya selalu berusaha mencari kata yang halus seperti : aloof atau kecenderungan murung padahal mah terus terang lebih jelas masalahnya apa. Saya selalu mencari kata pengganti yang lebih nyaman didengar semata-mata memperhitungkan perasaan keluarga, pandangan klien, bahkan kucing/ anjing peliharaan saya.

Lalu ada yang bertanya kepada saya, bagaimana keluarga harus bersikap kepada orang-orang seperti saya ini? Nah saya akan jelaskan di bawah.

Sebelum saya menulis tentang kondisi psikologis yang sebenarnya hasil frustasi yang mengendap selama bertahun-tahun tersebut, saya sudah membicarakan kondisi saya kepada sistem support saya. Ca e lah sok-sokan nyebut sistem support kaya punya keluarga dekat yang banyak untuk dipercaya mendengar cerita saya. Pada kenyataannya sistem support saya cuma 1: partner hidup. Iya sekian tahun perkawinan, saya tidak pernah menyebutnya ‘suami saya’. Kalau tidak menyebutkan nama aslinya (yang kebanyakan orang Indonesia alih-alih mengeja dengan baik, malah membuat variasi nama sendiri: RAHMAT) ya saya menyebutnya PARTNER HIDUP.

Dia satu-satunya manusia yang banyak saya ceritakan tentang kondisi saya karena sehari-harinya bertemu dengan beliau ((beliauuu; biar kelihatan lebih dewasa padahal mah dia lahir, gue udah jalan bokk hahahha)). Okeh kembali ke judul di atas ASEM alias Asertif – Empati. Sebuah formula komunikasi yang saya singkat secara semena-mena sebagai tanda bahwa saya orang Indonesia: apa-apa dibuat singkatan.

Partner hidup saya adalah seorang Virgo. Okeh ini topik musyrik nan tidak ilmiah. Kaum agama dan kaum logika pasti terkedjut jika ada topik yang dikaitkan zodiak. Sungguh melanggar norma yang hakiki. Percaya ga percaya Virgo itu selalu ingin membuat kesempurnaan sekalipun sudah diberi tahu bahwa kesempurnaan itu hanyalah punya Gusti Allah semata.

Memahami bahwa partner hidup saya bisa terpuruk jika saya memberitahu bahwa saya sepertinya ada kecenderungan depresi, saya memilih cara komunikasi yang tepat. Iya jargon bahwa pentingnya komunikasi dalam perkawinan harusnya dielaborasi lebih jauh lagi. Orang selalu bilang “gue selalu berkomunikasi dengan suami/ istri gue koq tapi ya dia begituuu lagi” Em bisa jadi komunikasinya gini sih Ito :

Situ teriak, yang sono diem-diem bae. Bukan dia memahami apalagi setuju sama situ. Cuma biar kelar aja pembicaraan menjemukan itu hehehe

Contoh Komunikasi Amburadul yang dianggap Wajar – Vivi 2019

Ga ada itu cara komunikasi yang baik. Dah buang aja buku-buku motivasi yang dimulai dengan kata memenangkan hati atau komunikasi yang baik. Yang ada itu komunikasi yang tepat. Bisa jadi orang yang kita ajak ngobrol ini tetap akan porak poranda hatinya mendengar apa yang kita sampaikan karena halooooo polisiiiiii, kita ga bisa mengatur bagaimana otak manusia bereaksi dengan kata-kata kita.

Saya menggunakan asertif dan empati ini secara cermat ketika saya sempat berpikir ketika saya menjelaskan kondisi saya yang kadang suka depresif tersebut. Mengingat partner hidup menghayati sekali perannya sebagai sistem support saya paham ketika saya menyampaikan sesuatu, dia langsung siap solusi A,B,C,D bahkan ketika sebelum saya selesai bercerita lengkap. Namanya juga partner hidup siap menuju sempurna, kadang dia merasa cerita saya berputar-putar. Sebenarnya masalahnya sederhana : tidak pernah nyaman untuk saya menceritakan kondisi buruk. Langkah pertama yang saya lakukan adalah:

Ada yang gue mau sampaikan akan lebih nyaman buat gue kalau didengarkan sampai selesai tanpa interupsi.

Langkah 1 – Asertif

Lah namanya insting kepahlawanan dan kesempurnaan membara itu begitu menyala dan menggebu di partner hidup kadang dia ya kelepasan juga motong. jadi saya pun menambahkan:

Gue merasa terganggu lu potong kaya gitu. Ini gue boleh lanjut ngomong gak? Saat ini gue cuma butuh didengar. Solusi akan gue minta kalau memang gue butuh.

Langkah 2 – Asertif

Terus teknisnya misalnya ketika saya bisa dalam satu waktu tidak bisa berhenti menangis. Eh mending ya nangis berderai-derai, bisa disodorin tisu. Ini seringan saya cuma mata berkaca-kaca air mata netes sekedarnya tapi karena ga keluar semua sudah kaya hujan rintik-rintik. Ga kelar-kelar dalam 1 jam hahaha. Itu juga saya sampaikan:

Kalau gue terlihat mewek kaya begini, tenang saja tidak perlu panik, tidak perlu merasa bersalah apa karena lu salah ngomong atau apa. Tenang aja. Lu udah di sebelah gue juga cukup

Langkah 3 – Empati

Berikutnya, saya paham betul perilaku orang yang depresif itu mau ga mau mengeluarkan racun. Maksud saya di sini, orang model saya begini susah optimis, cenderung murung. Tentu saja sumber kebahagiaan saya berbeda dengan partner, itu sebabnya:

Saya selalu mendukung partner hidup saya bertemu teman-temannya entah itu acara seharian atau berlibur bersama.

Langkah 4 – Empati

Setidaknya paparan dengan dunia luar, pembicaraan berbeda atau permainan yang dilakukan bisa menyegarkan partner hidup. Permainan? Iya saya tidak pernah bermain. Ponsel saya tidak pernah ada aplikasi permainan apapun. Saya kan sudah menyebutkan bahwa partner hidup saya ingin kesempurnaan. Jadi tentu saja keinginannya adalah saya ikut bersamanya setiap kali ia bertemu teman-temannya. Masalahnya adalah sumber kebahagiaannya, belum tentu yang saya suka.

Langkah di luar Asertif dan Empati ini adalah menghargai apa yang partner kerjakan. Bukan melulu mengeluhkan koq-ga-ngertiin-gue-banget-sih-bokk. Jika mungkin dulu saya terlalu gengsi untuk mengucapkan terima kasih atas perhatian kecilnya, sebisa mungkin saya menyampaikan hal tersebut karena manusia entah itu jadi pegawai atau jadi partner menjadi termotivasi ketika hasil usahanya dihargai bukan dikomentari untuk kesalahan kecil yang dibuat. Seperti oleh-oleh yang dibelikan partner setelah dia pergi berlibur:

hal yang saya sampaikan adalah: gue terharu loh pas lagi down banget dapet begini (disampaikan keesokan harinya karena pas hari H saya sedang berusaha maksimal untuk tidak menangis haru)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s