Keluar dari Zona Nyaman melalui PAMERAN

Asli lah ini judul ilmiah banget sik tapi itu yang paling menggambarkan jadi ya sudahlah. SAHABAT yang mana awalnya saya buat untuk mengusir rasa sepi tak berdaya akhirnya saya seriusi. Hahaha. Lah koq gitu? Abis bagaimana dong? Cuma ini saya punya daya dengan penuh tenaga untuk mengimani sesuatu.

Ngomong-ngomong soal iman, saya bukanlah orang yang bisa anda temui rajin beribadah atau rajin mengutip ayat. Namun saya terlalu percaya diri, kekuatan dari dalam diri ketika mengimani sesuatu itu sebenarnya luar biasa besar sehingga bisa terjadi.

Masalahnya adalah selama bertahun-tahun saya terlatih menjadi bayang-bayang. Saya berpikir bahwa saya lahir di bumi hanya sebatas menjadi anak yang berbakti lalu menjadi istri yang mengabdi. Dah sesederhana itu. Sampai akhirnya saya frustasi. Untuk saya, hanya sekadar menjadi tim perlap untuk mendukung cita-cita seseorang menjemukan sekali. Haha. Saya tetap mencintai Ramot (ga sampai 3000, cukup 70 saja sesuai berat badan hari ini) tapi saya merasa perlu bersaing dalam hal ambisi. Hahaha.

Saya tahu nih sumber energi besar untuk mengimani agar SAHABAT berhasil semata-mata karena saya tidak punya iman untuk punya anak (mau itu adopsi apalagi bikin sendiri hahaha). Punya anak ini adalah hal kedua yang tidak berani saya imani. Hal pertama adalah soal nikah. Baca deh tulisan lama. Bagaimana pernikahan ini terjadi dan tidak jadi bubar ya karena Ramot yang mengimani. Saya cuma bagian peran mengikuti.

Namun mengimani sebuah usaha yang saya rintis berhasil ini sendiri adalah sebuah kemajuan iman yang cukup mengezutkan buat saya. Loh? Iya. Selama ini saya cuma bisa mengimani untuk orang lain (tentu saja biasanya Ramot yang saya imani bisa begini, bisa begitu). Selama bertahun-tahun saya terlalu grogi untuk mengimani sesuatu bagi diri sendiri karena saya ragu apakah memang itu yang saya ingin lakukan. Jadi pantas kan saya tidak jadi kuliah di Australia (apalagi di USA; dua-duanya diterima di Magister Pendidikan Berkebutuhan Khusus), gak jadi punya rumah di Depok 2x (iya DP 2X hangus lalu gak bisa nyicil; ternyata jauh di dalam hati DEPOK hanya pemberhentian sementara bukan tujuan akhir), dan banyak hal kecil lainnya.

Baru awal 2019 ini setelah terbangun dari nina bobo bahwa Sahabat cuma sekadar untuk kasi uang jajan, saya mulai menetapkan angan mau ke mana Sahabat ini akan dibawa.

Aslinya uang tak ada loh. Biaya pameran itu luar biasa besar di luar budget belanja rutin. Saya berdoa ketika sendirian agar bisa dapat pinjaman BRI. Saya bersyukur Pet Shop Indonesia bersedia meminjamkan freezer sehingga bisa untuk pameran. Saya berterimakasih untuk seluruh tim yang siang malam mengejar target pengepakan barang. Saya senang sekali teman-temen pembeli bersedia memberikan ulasan sehingga kami bisa membuat material yang menarik ketika pameran nanti.

Gongnya adalah pameran. Orang-orang yang datang mana tahu soal Sahabat, belum tentu mereka tahu siapa itu Rumah Steril, bisa jadi mereka malah pro fertil (bahasa halus untuk Kaum Anti Steril). Namun saya akan menyapa mereka, memperkenalkan diri demi satu cita-cita saya mau produk saya terpajang di Ace Hardware.

Karena cita-cita itu, saya rutin mengikuti langkah pelatihan dari Dinas Perindustrian DKI. Selain berjejaring tentu saja untuk belajar bagaimana membuat produk layak mejeng di rak bonafid. Jangan ditanya bagaimana luar biasa lelahnya. Mengingat saya juga tetap berusaha promo sekalipun belum ada yang order partai besar.

Setelah barang saya bisa nangkring di Ace Hardware, saya bisa beristirahat dengan tenang bertemu dengan Bapa di surga. Namun sebelumnya, saya mau ambil S2. Hahaha. Iya. Alasan saya membuat usaha ini berhasil karena saya ingin sekolah lagi demi cita-cita SMP untuk jadi psikolog dan ga harus menjadi bayang-bayang dengan kuliah dibayari uang suami. Dagang ini marilah kita anggap sebagai jalan memutar karena saya sendiri paham saya memang tidak pernah mendapatkan sesuatu dengan mudah.

One thought on “Keluar dari Zona Nyaman melalui PAMERAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s